Home » Gaya Hidup » Fenomena Seks Dengan Robot Atau Boneka Seks Mulai Ramai. Namun Apakah Berhubungan Seks dengan Robot Sama dengan Zina?

Fenomena Seks Dengan Robot Atau Boneka Seks Mulai Ramai. Namun Apakah Berhubungan Seks dengan Robot Sama dengan Zina?



Jakarta – Westworld memunculkan sejumlah pertanyaan tentang masa depan kehidupan seks kita yang semakin digital, demikian ditulis Brandon Ambrosino.

Fenomena Seks Dengan Robot Atau Boneka Seks Mulai Ramai. Namun Apakah Berhubungan Seks dengan Robot Sama dengan Zina?

Bayangkan jika Anda cukup kaya untuk membelanjakan US$40.000 atau Rp536 juta untuk mengunjungi sebuah kota selama satu hari di mana tidak ada aturan. Anda bisa menjadi siapa pun yang Anda inginkan.

Anda bisa memperkosa siapa pun. Anda bisa memaksa setiap orang yang Anda temui untuk memuaskan kesadisan Anda. Aksi Anda tidak akan dihukum di kota ini. Hanya sedikit orang yang akan mengetahui tingkah laku Anda dan mereka akan mendorong Anda untuk terus melakukannya.

Kedengarannya jahat sekali bukan?

Sekarang bayangkan skenario yang sama, dengan satu perubahan: setiap orang yang Anda paksa berhubungan seksual adalah robot. Siapa pun yang kepalanya Anda tembak adalah seorang robot.

Orang yang Anda siksa dan manipulasi dan sentuh sebenarnya bukan manusia. Mereka diciptakan untuk melayani Anda dan memuaskan Anda dan membuat Anda mencapai apa pun yang Anda inginkan.

Apakah kedengarannya sejahat skenario pertama?

Robot tidak bisa menyakiti orang lain. Paling tidak itulah pemikirannya. Ini adalah salah satu ide utama yang dikaji Westworld, drama terbaru HBO, tentang taman hiburan bertema Wild West di mana para tamu dapat melakukan apa pun yang mereka inginkan bagi ‘para tamu’ atau robot penghuni resor itu.

Westworld memaksa para penonton untuk menghadapi pertanyaan tentang masa depan, terutama karena ini berkaitan dengan erotisme kita. Ini adalah pertanyaan yang sebagian dari kita sebelumnya pandang sebagai kekonyolan sci-fi.

Apa artinya “nyata”? Robot, termasuk alat kelaminnya, yang secara teratur kita lihat, bertindak seperti manusia. Desahan, ciuman, erangan dan orgasme mereka sepertinya nyata.

Tetapi direktur naratif taman hiburan, Lee Sizemore (Simon Quarterman) mengatakan, “Tempat ini berjalan karena para tamu mengetahui para penghibur tidak nyata.” Seharusnya seperti ini karena tidak satu manusiapun ingin “membayangkan suaminya benar-benar (berhubungan seksual dengan) perempuan cantik itu.”

Hal ini memunculkan pertanyaan sangat menarik: seberapa nyatanya suatu hubungan seksual agar dipandang suatu ketidaksetiaan?

Di satu sisi seks yang terjadi di Westworld adalah digital, jika itu berarti seks yang terjadi pada realita versi komputer. Tetapi pada saat yang sama, seks di Westworld melibatkan berbagai tubuh yang serasi sama lain, termasuk tubuh yang dibentuk berbeda, jadi kita bisa menyimpulkan seks terjadi pada mahluk di waktu dan tempat yang nyata.

Baca juga : Tak Ingin Selingkuh, Pekerja Tiongkok “Gituan” Dengan Boneka Pemuas Nafsu

Sejumlah pengkritik marah karena Westworld menampilkan kekerasan seksual. Mereka memusatkan perhatian kemarahan terhadap kekerasan seksual terhadap Dolores (Evan Rachel Wood), yang seperti Maeve mulai mengingat masa lalu, yang sayangnya berisi kekerasan seksual.

Tetapi Dolores dan Maeve bukanlah penghibur satu-satunya yang diprogram untuk memuaskan para tamu. Bisa dibilang semua robot di Westworld dalam kendali keinginan para tamu. Jika itu yang terjadi, dalam bentuk seperti apa tindakan seksual di taman hiburan dipandang suka sama suka?

Konsep izin bergantung pada kemungkinan menyatakan tidak. Bahkan ketika para penghibur tidur dengan penghibur lainnya, mereka hanyalah mematuhi pria yang merancang mereka. Di atas kehidupan seks, dalam bentuk seperti apa kita bisa katakan interaksi antara penghibur dan tamu sebagai suka sama suka?

Sudah pasti, terdapat perbedaan di Westworld: para penghibur sepertinya merasakan sakit, cemas dan teror. “Lihat cara dia menggerakkan tubuh!” kata seorang tamu sementara penghibur yang baru saja ditembak suaminya meninggal dengan perlahan-lahan di tanah.

Dan meskipun ini kelihatannya tidak benar, kita harus konsisten dengan penilaian moral kita: jika berbagi orgasme dengan robot bukanlah suatu perzinahan, maka membunuh salah satu dari mereka bukanlah suatu pembunuhan.
(Muspri-sisidunia.com)