sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Bermodal Berita Hoax, Remaja Ini Raup Rp 800 Juta

Bermodal Berita Hoax, Remaja Ini Raup Rp 800 Juta



Surabaya – Seorang remaja 17 tahun membuat pengakuan yang mencengangkan di Makedonia. Ia mengklaim telah menghasilkan uang senilai 60 ribu Dolar AS atau setara lebih dari Rp 800 juta dari berita-berita palsu alias berita hoax yang dibuanya tentang seputar pemilihan presiden Amerika Serikat beberapa waktu lalu.

Bermodal Berita Hoax, Remaja Ini Raup Rp 800 Juta

Uang sebanyak itu, dihimpunnya dari iklan di media online yang dia buat untuk menyebarkan berita-berita palsu tersebut.

Dikutip dari NBC News, remaja ini sebenarnya hanyalah satu dari 300 orang yang tinggal di kota kecil Veles, Makedonia, yang mencari keuntungan dari produksi berita-berita palsu selama pelaksanaan Pemilihan Presiden AS.

Baca juga : Ingin Keliling Surabaya Naik Bus Imut Ini ? Sediakan Uang Rp 7500

Informasi itu sendiri muncul setelah terungkap bahwa hampir 100 situs bermuatan politik yang dioperasikan dari Veles, sebagian besar dijiplak dan direkayasa dari situs-situs politik sayap kanan di Amerika Serikat.

“Dalam membuat berita-berita palsu, yang kamu perlu lakukan adalah hanya mengamati apa yang orang suka, lalu memberikan mereka informasi-informasi yang sesuai dengan kesukaan mereka itu,” kata remaja dengan nama samaran Dimitri tersebut.

Dalam artikel-artikel yang dia unggah, Dimitri lebih banyak membuat informasi-informasi yang menyerang Hillary Clinton.

“Aku banyak menulis mengenai rumor seputar email-email Hillary yang terkait dengan tragedi Benghazi dan penyakit-penyakit yang kemungkinan dia idap. Ketika informasi ini saya sebarkan, para pendukung Trump langsung menyebarkannya dengan cepat,” sambungnya.

Saat ditanya apakah tidak merasa bersalah dengan aktivitasnya tersebut, Dimitri dengan tegas menyatakan tidak.

“Orang-orang menjual rokok, menjual alkohol. Kalau itu tidak disebut ilegal, lalu mengapa yang saya lakukan ini dianggap ilegal? Padahal kalau menjual rokok, hal itu akan membuat orang lain mati. Sementara yang aku lakukan tidak,” pungkasnya.

Produksi-produksi berita palsu sendiri memang telah menjadi semacam tambang emas dalam dunia internet.

Para pelakunya tidak peduli apakah informasi yang mereka buat dan sebarkan, dapat mengundang komentar-komentar penuh kebencian yang juga berdampak pada hubungan masyarakat di dunia nyata.

Hal yang sama juga terjadi di Indonesia, khususnya ketika momen Pilkada DKI Jakarta menjadi wacana yang umum dibicarakan masyarakat. (bens – sisidunia.com)