sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Warga Pidie Jaya Masih Takut Terjadi Lagi Gempa Susulan

Warga Pidie Jaya Masih Takut Terjadi Lagi Gempa Susulan



Pidie Jaya – Pelatar Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pidie Jaya penuh sesak oleh pasien rawat inap. Mereka lebih memilih dirawat di pelatar daripada di dalam ruangan.

Trauma akan gempa yang terjadi pada kemarin masih membayangi mereka. Suryani, salah satunya. Guru pendidikan anak usia dini (PAUD) itu tergolek lemah di atas tempat tidur di pelatar rumah sakit Rabu (7/12/2016).Warga Pidie Jaya Masih Takut Terjadi Lagi Gempa Susulan

Suryani adalah korban gempa yang mengalami luka berat. Perempuan berusia 30 tahun itu tertimpa lemari saat gempa. Akibatnya, tulang punggung Suryani patah. Ia dirawat sejak Rabu malam di sana dan lebih memilih berada di selasar ketimbang di dalam ruangan. Padahal masih ada 20 ruang rawat inap yang siap menampung pasien.

“Masih takut, Bang. Takutnya ada gempa susulan dan nanti malah tertimpa bangunan kalau di dalam. Lebih aman di luar,” kata Syakban, adik Suryani yang turut menemani kakaknya di rumah sakit, Sabtu (10/12/2016).

Baca juga : Gempa Aceh 7 Desember Mengakibatkan Belasan Ribu Bangunan Rusak

Syakban menyebut gempa kali ini lebih mengejutkan ketimbang saat tsunami di tahun 2004. Meski bermagnitudo lebih kecil, gempa Rabu kemarin dirasa lebih dahsyat guncangannnya.

“Kalau dulu tahun 2004 gempa sebelum tsunami itu menyamping. Kalau yang sekarang itu naik turun dan membuat kami lebih pening,” ujar Syakban sembari memeragakan guncangan gempa dengan telapak tangannya yang naik turun.

Gempa kali ini juga diiringi gempa susulan berkali-kali. Itu terjadi tak hanya sekali dan selalu muncul sejak Rabu kemarin hingga hari ini. Setidaknya, gempa susulan terjadi dua kali dalam sehari.

“Kalau sudah begitu, Bang, kami dan para pasien ini pasti panik. Kemarin malam aja waktu ada gempa susulan, meski kecil, kami semua langsung lari ke tengah halaman rumah sakit,” ucap Syakban.

“Makanya sedikit saja kami rasakan adanya goncangan, kami biasanya langsung merasa panik. Kayak lagi duduk, ternyata teman disamping kakinya bergoyang dan kami rasakan guncangannya itu bisa panik. Padahal bukan gempa,” lanjut Syakban.

Akibat trauma itu, Suryani dan keluarga bersepakat agar tetap melanjutkan proses rawat inap di luar ruangan. Pilihan itu diambil bukan karena mereka tak tahu bahaya yang mengintai saat dirawat di luar ruangan.

Suryani dan keluarga tahu, di dalam ruangan jelas lebih steril dibandingkan di luar. Itu tentu akan berpengaruh saat ia diperban seusai menjalani operasi. Namun, trauma yang membayangi membuatnya merasa lebih aman dirawat di luar.

“Iya, Bang, masih takut kalau di dalam,” ucap Suryani yang akhirnya sedikit membuka suara dalam kondisi yang masih lemah.

Menanggapi situasi dilema, Direktur RSUD Pidie Jaya dr. Ernida Idris mengaku telah melakukan trauma healing kepada seluruh pasien yang dirawat di tempatnya.

“Kami sudah sampaikan bahaya kepada mereka bila terus-terusan dirawat di luar ruangan, tapi memang mereka masih takut untuk menginap di dalam. Tapi tetap akan kami carikan jalan keluar yang terbaik,” kata Ernida.

Ia pun memahami, proses rawat inap yang berlangsung di luar ruangan tentu tidak baik bagi pasien. Namun, dia juga tak bisa memaksa pasien untuk di rawat di dalam.

Saat ini, terdapat 33 pasien yang dirawat di RSUD Pidie Jaya. Dari 33 pasien, tujuh di antaranya merupakan korban gempa Aceh. Semuanya memilih untuk menginap di pelatar rumah sakit.

“Mungkin nanti kalau tak ada gempa susulan, kami semua mulai berani untuk ke dalam, semoga gempa susulan tak datang lagi,” ujar Syakban. (bens – sisidunia.com)