Home » News » Kisah Menghilangnya Gus Dur Dari Rumah Sakit Akibat KPK

Kisah Menghilangnya Gus Dur Dari Rumah Sakit Akibat KPK



Surabaya – Presiden Keempat Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, dikenal sebagai sosok yang tidak pernah berhenti dari aktivitasnya sebagai pejuang sosial hingga fisiknya uzur dan menjelang wafat. Dia tetap sibuk mengurus masyarakat, meski beberapa kali harus opname di rumah sakit.

Kisah Menghilangnya Gus Dur Dari Rumah Sakit Akibat KPK

Nah, bicara soal rumah sakit, ada cerita menarik tentang Gus Dur dan rumah sakit. Sekira setahun sebelum wafat pada 30 Desember 2009, kesehatan Gus Dur semakin memburuk dan beberapa kali harus dirawat inap di rumah sakit.

Baca juga : Hari Anti-Korupsi Dunia, Camat dan Kepala Dusun Korupsi Sudah Ditahan

“Waktu itu bapak sudah bolak-balik rumah sakit opname. Biasanya kami menyebut bapak ngekos. Opname juga cara kami keluarga mengistirahatkan bapak dari kesibukan,” kata putri bungsu Gus Dur, Inayah Wulandari, di acara Orasi Pluralisme Gus Dur di Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya, Jawa Timur, pada Jumat (9/12/2016) malam.

Suatu waktu, lanjut wanita biasa dipanggil Inayah Wahid itu, Gus Dur kembali sakit dan menjalani rawat inap di RSCM Jakarta. Kala itu kondisi politik nasional tengah diwarnai hiruk pikuk perseteruan antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan Kepolisian RI, atau biasa disebut dengan istilah Cicak Versus Buaya jilid pertama.

“Tiba-tiba Gus Dur hilang dari ruang perawatan. Kami semua bingung mencari. Ternyata Gus Dur ada di KPK. Pihak rumah sakit marahi kami, keluarga. Setelah ditanya kenapa pergi, Gus Dur bilang, ‘Kalau bukan bapak yang bela KPK terus siapa?’,” kata Inayah mengenang.

Di mata Inayah, Gus Dur adalah sosok yang tidak pernah berhenti melakukan perubahan. Waktu dan tenaganya seolah tidak habis dan berhenti untuk sosial-kemasyarakatan. “Teman-teman bapak sering bilang, apa yang dilakukan Gus Dur seperti dilakukan sejuta orang. Gus Dur on terus, seakan-akan tidak ada tombol off-nya,” kata Inayah.

Selain Inayah, hadir memberikan orasi pluralisme Gus Dur di Masjid Muhammad Cheng Hoo ialah Salahuddin Wahid atau Gus Solah, adik kandung Gus Dur. “Orang banyak mengira pluralisme menurut Gus Dur semua agama sama. Tidak seperti itu. Gus Dur percaya Islam agama paling benar,” kata Gus Solah.

Tapi Gus Dur, lanjut pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, itu, Gus Dur menghargai agama orang lain. “Itulah pluralisme Gus Dur. Toleransi Gus Dur seperti itu. Saling menghargai dan tidak menjelek-jelekkan agama orang lain. Jadi tidak betul Gus Dur menyamakan semua agama itu benar,” ujarnya.

Gus Dur wafat tujuh tahun lalu, yakni pada 30 Desember 2009. Pada Haul ketujuh Gus Dur di Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang nanti, panitia berencana mengundang Presiden RI Joko Widodo. “Belum tahu persiapannya (Haul Gus Dur) seperti apa. Sudah disampaikan ke Presiden undangannya, cuma hadir atau tidaknya belum ada konfirmasi dari istana,” kata Gus Solah.

(bens – sisidunia.com)