Home » Ekonomi & Bisnis » Diperkirakan BI Akan Tahan Bunga Acuan 4,75 Persen

Diperkirakan BI Akan Tahan Bunga Acuan 4,75 Persen



Jakarta – Bank Indonesia diperkirakan menahan suku bunga acuan “7-Day Reverse Repo Rate” sebesar 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur pekan depan, dan mengakhiri pelonggaran moneter sebesar 150 basis poin sepanjang 2016.

Diperkirakan BI Akan Tahan Bunga Acuan 4,75 Persen

Ekonom DBS Bank Gundy Cahyadi dalam tanggapannya melalui surat elektronik di Jakarta, Jumat, 9 Desember 2016 mengatakan sebagian besar dampak pelonggaran kebijakan moneter bank sentral sepanjang tahun ini akan terasa di awal 2017 bagi perekonomian.

Untuk 2017, DBS melihat BI akan menerapkan kebijakan moneter yang masih akomodatif terhadap pertumbuhan ekonomi. “Namun, kami melihat di semester II 2017, ada kemungkinan BI akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin,” kata ekonom yang berbasis di Singapura tersebut.

Sepanjang 2016, selain penurunan suku bunga acuan 150 basis poin, BI juga telah melonggarkan Giro Wajib Minimum Primer sebesar 150 basis poin.

Transmisi kebijakan moneter terhadap suku bunga perbankan diakui belum maksimal. Per Oktober 2016, suku bunga kredit baru turun 62 basis poin, sedangkan suku bunga deposito sudah turun sebesar 129 basis poin.

Baca juga : Perubahan Iklim Dapat Berdampak Kerugian Pada PDB Indonesia

Disisi lain, anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat meminta Bank Indonesia lebih siap dalam melakukan intervensi ke pasar keuangan guna menstabilkan nilai tukar rupiah, karena tekanan eksternal semakin menguat menjelang kenaikan suku bunga The Federal Reserve pada 14 Desember 2016.

“Kalau kita lihat di APBN, secara rata-rata asumsi kurs Rp13.300 per dolar AS (hingga akhir tahun). Jika setelah ada volatilitas, dan dipandang sebagai volatilitas yang tinggi karena spekulasi menjelang The Fed, disitu (BI) butuh bersikap,” kata Andreas Edy Susetyo di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Jakarta, Rabu, 30 November 2016.

Andreas meminta BI untuk tidak lengah, agar volatilitas kurs rupiah menjelang kenaikan bunga The Fed, tidak jauh dari nilai fundamentalnya.

Bank Sentral, kata dia, harus mengintervensi secara terukur, baik itu melalui pasar valuta asing atau melalui instrumen Surat Berharga Negara dan Sertifikat Bank Indonesia.

“Apakah saat volatilitas tinggi BI perlu masuk atau lebih baik jangan terpengaruh, tapi disini adalah kembali bagaimana BI harus memastikan bahwa pasar tidak terlalu terpengaruh,” kata anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan.
(Muspri-sisidunia.com)