sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » Travel & Kuliner » Pengakuan Mehamat Br Karo Sekali Bikin Bulu Kuduk Merinding

Pengakuan Mehamat Br Karo Sekali Bikin Bulu Kuduk Merinding



Jakarta – Di tengah senyapnya ruang koleksi Museum Negeri Sumatera Utara, Mehamat Br Karo Sekali (51) tampak serius memandangi naskah kuno sembari sesekali mengetik di komputer jinjing miliknya.

Pengakuan Mehamat Br Karo Sekali Bikin Bulu Kuduk Merinding

Sama seperti hari-hari lain, ia sibuk dan asyik sendiri menerjemahkan serta mengalihaksarakan naskah kuno beraksara Batak ke aksara Latin berbahasa Indonesia.

Mehamet yakin, ajaran-ajaran yang dituliskan nenek moyang orang Batak tidak ditulis sembarangan. Ada doa dan tirakat dalam setiap aksara yang ditulis. Berbagai pengalaman ia rasakan saat mencoba membaca naskah kuno yang ternyata isinya mantra. Tak jarang ia harus menghentikan kegiatannya karena merasa ketakutan dan bulu kuduknya berdiri.

Kitab-kitab kuno Batak, lanjut Mehamat, biasanya berisikan keterangan tentang ramuan obat-obatan, ramalan hari buruk dan hari baik, mantra-mantra, serta berbagai pedoman dan hidup sehari-hari. Naskah-naskah itu biasanya ditulis di atas kulit kayu ulin, gading gajah, tulang kerbau, dan bambu.

Alat yang digunakan untuk menulis naskah-naskah kuno tersebut ialah bulu ayam. Adapun tinta yang digunakan berasal dari ramuan hasil bakaran kayu jeruk purut yang dicampur air tebu.

Khusus untuk naskah yang ditulis dari kulit kayu, orang-orang tua zaman dulu membentuknya menjadi sebuah kitab yang terdiri atas 30 lembar hingga ratusan lembar. Biasanya Mehamat membutuhkan waktu 1 minggu hingga 3 bulan untuk menerjemahkan sebuah naskah.

Saat ditemui pada Jumat (28/10), ia sedang menerjemahkan naskah Maniti Ari. “Naskah ini berisi anjuran atau pedoman untuk menentukan hari baik dan buruk. Kapan waktu bercocok tanam yang baik, kapan waktu mengadakan upacara yang baik, semua ada di sini,” ujarnya.

Sadar akan kekayaan naskah kuno, Mehamat terkadang mencari tahu di mana naskah-naskah kuno Batak tersimpan. Ia kaget bukan kepalang saat mengetahui ada ratusan naskah kuno tersimpan di Perpustakaan Leiden di Belanda.

Baca juga : Mehamat Br Karo Sekali Belajar Aksara Batak Secara Otodidak

Sebenarnya, kata Mehamat, sudah ada upaya untuk membawa pulang naskah-naskah kuno Batak itu ke Indonesia. Namun, pihak Perpustakaan Leiden keberatan karena Indonesia belum memiliki ruang penyimpanan yang sesuai dengan standar yang berlaku di Belanda.

Oleh karena itulah, Mehamat memiliki keinginan besar untuk dapat berkunjung ke Perpustakaan Leiden. Ia ingin mengetahui naskah apa saja yang tersimpan di sana.

“Satu bulan saja saya di sana, ingin saya baca semua naskah yang ada di sana. Siapa tahu ada kisah atau ajaran penting yang belum kita ketahui, padahal itu berguna bagi kehidupan orang Batak,” katanya.
(Muspri-sisidunia.com)