Home » News » Sempat Terjadi Ketegangan Antara Aparat dan Aktivis HMI Saat Aksi Damai

Sempat Terjadi Ketegangan Antara Aparat dan Aktivis HMI Saat Aksi Damai



Nunukan – Aksi unjuk rasa yang digelar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Nunukan Cabang Tarakan diwarnai kericuhan di Alun-Alun Nunukan, Jumat (2/12/2016) sore.

Sempat Terjadi Ketegangan Antara Aparat dan Aktivis HMI Saat Aksi Damai

Puluhan aktivis HMI digelandang aparat kepolisian. Massa HMI Komisariat Nunukan menggelar aksi berdasarkan instruksi dari Pengurus Besar (PB) HMI.

Baca juga : Ingin Bertemu Jokowi, Bocah 6 Tahun Ini Ikut Aksi 212

Pihak Kepolisian Resor (Polres) Nunukan meminta agar mereka tidak menggelar unjuk rasa. Lantaran, tidak ada mahasiswa yang melakukan unjuk rasa di Kalimantan Utara (Kaltara), hanya doa dan zikir bersama.

Pantauan dari lokasi, pihak kepolisian hanya memberikan waktu 10 menit untuk berorasi. Di awal aksi berlangsung tertib dan damai. Ketua HMI Komisariat Nunukan, Syahrijal menyampaikan bahwa aksi yang dilakukan adalah aksi super damai.

Aksi dilakukan untuk menuntut proses hukum yang adil terhadap Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok terkait perkara penistaan agama.

“Ahok sudah dinyatakan tersangka, namun hingga saat ini belum ditahan, hukum harus ditegakkan di negeri ini,” kata Syahrijal saat menyampaikan orasinya.

Orasi selanjutnya diambil alih mantan Ketua HMI Komisariat Nunukan, Safaruddin dengan menyampaikan tuntutan yang sama bahwa, Ahok harus diadili dan tidak bisa dibiarkan karena statusnya saat ini sudah tersangka.

“Aksi ini adalah aksi super damai tidak bermaksud untuk menganggu ketentraman masyarakat Nunukan,” ujar Safar sapaan akrabnya.

Aksi unjuk rasa yang baru saja berlangsung sekitar 10 Menit dan ingin ditutup Jumadil Arizal salah seorang anggota HMI Komisariat Nunukan, langsung berubah mencekam.

Saat itu, Jumadil ingin mengucapkan kata penutupan. “Dengan ucapan Alhamdulillahirobbil alimin, aksi ini saya tutup,” kata Jumadil saat menutup aksi unjuk rasa tersebut.

Setelah aksi tersebut ditutup tiba-tiba aparat kepolisian melakukan tindakan dan menyerbu puluhan masa aksi unjuk rasa dan mengamankan seluruhnya.

Sempat terjadi keributan mulut antara mahasiswa dan pihak kepolisian. Namun, semua massa aksi diamankan pihak kepolisian menggunakan truk polisi.

Terlihat beberapa mahasiswa dipaksa untuk menaiki truk. Namun, mahasiswa tetap menolak jika harus diamankan kepolisian.

Bahkan, mantan Ketua HMI Komisariat Safaruddin terlihat terluka pada bagian wajahnya. Darah segar mengalir di pipi kanannya.

Terpisah, Kapolres Nunukan, Pasma Royce, SIK mengatakan, puluhan mahasiswa yang melakukan unjuk rasa terpaksa diamankan pihaknya.

Karena tidak mengikuti aturan sebagaimana mestinya sebelum melakukan aksi unjuk rasa. Seharusnya melapor tiga hari sebelum melakukan aksi unjuk rasa.

“Diamankan karena tidak mengikuti prosedur, seharusnya jika ingin melakukan aksi unjuk rasa harus melapor dulu,” kata Pasma Royce kepada Radar Nunukan, Jumat (2/12/2016).

Mereka diamankan untuk sementara di Mako Polres Nunukan. “Diamankan sementara saja, sebentar malam (tadi malam, Red.) akan dikembalikan ke rumahnya masing-masing,” janjinya.

(bens – sisidunia.com)