sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » Gaya Hidup » Di Jepang Masih Ada Tradisi Perjodohan

Di Jepang Masih Ada Tradisi Perjodohan



Jakarta – Perjodohan di Indonesia sudah dianggap ketinggalan zaman oleh generasi sekarang, namun di Jepang, hal ini menjadi sebuah kebudayaan yang masih dipegang teguh oleh para orang tua. Biasanya orang tua ikut campur saat anaknya kesulitan mencari jodoh dengan cara biasa. Orang tua yang resah akan masa depan anaknya pun siap membantu dengan cara omiai seperti dilansir dari jpninfo.com, Sabtu (3/12/2016).

Di Jepang Masih Ada Tradisi Perjodohan

Omiai adalah pertemuan antara satu keluarga dengan keluarga lainnya yang bertujuan untuk mencari jodoh dan menikah. Bila kebanyakan pasangan memilih menikah dengan pasangan yang sangat dicintainya berbeda dengan di Jepang. Hampir 40% masyarakat di Jepang menjalin cinta karena omiai. Hal ini juga disebabkan oleh berbagai faktor yang membuat keluarga khawatir dengan anak-anaknya.

Baca juga : Keindahan Musim Gugur Di Jingu Gaien

Salah satu penyebabnya adalah umur ideal menikah yang diakui di Jepang yaitu 25 tahun untuk wanita dan 30 tahun untuk pria. Masyarakat juga memandang negatif wanita yang tidak segera menikah, bahkan memberikan julukan khusus seperti “Chrismas Cake”. Chrismas Cake berarti tidak baik setelah tanggal 25 Desember, sama dengan umur maksimal menikah. Tekanan lainnya yang sering dirasakan adalah menikah karena alasan bisnis, seperti butuh penerus untuk perusahaan atau pernikahan demi memuluskan ekspansi bisnis.

Untuk melakukan omiai, setiap calon pasangan harus mendaftarkan dirinya ke biro jodoh. Setelah mengisi data diri dan berbagai persyaratan penting di dalamnya, barulah disusun jadwal pertemuan. Biasanya yang mendaftar ke biro ini kebanyakan adalah ibu dari yang anaknya belum menikah.

Pertemuan pertama diisi dengan pertemuan calon pasangan dan keluarganya, karena pernikahan sangat penting bagi kedua keluarga. Tentu saja pertemuan pertama tidak terlalu banyak informasi yang diberikan. Barulah pada pertemuan kedua dan ketiga, masing-masing calon pasangan bercerita lebih banyak dan bisa berujung dengan pernikahan.

Bila cocok, mereka akan langsung mengadakan pesta pernikahan. Tapi pertanyaannya yang muncul, apakah mereka tahan hidup dengan orang yang benar-benar baru mereka kenal dalam beberapa bulan saja?

Statistik menyatakan pasangan yang menikah dengan cara omiai, lebih sedikit tingkat perceraiannya, dibanding yang menikah dengan cinta sejatinya. Jadi teknik perjodohan omiai ini bisa membuat kedua pasangan lengket hingga akhir hayat. (bens – sisidunia.com)