sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Rano Karno Dituding Turut Menikmati Hasil Dugaan Kasus Pencucian Uang

Rano Karno Dituding Turut Menikmati Hasil Dugaan Kasus Pencucian Uang



Banten – Kuasa hukum Tubagus Chaeri Wardana (TCW) alias Wawan, Tubagus Sukatma, mengaku tidak terkejut atas pernyataan Ketua KPK, Agus Rahardjo, soal kasus besar yang akan diungkap setelah Pilkada Banten, dalam sebuah acara di Kota Serang, Banten, belum lama ini.

Rano Karno Dituding Turut Menikmati Hasil Dugaan Kasus Pencucian Uang

Bahkan, Sukatma memastikan, arah pernyataan ketua KPK itu tidak terkait orang di lingkaran keluarga Ratu Atut Chosiyah, tetapi orang lain yang menerima aliran dana dari kliennya. Sebab, kasus yang menjerat mantan Gubernur Ratu Atut Chosiyah dan TCW sedang dalam proses.

“Dalam proses penyelidikan dan penyidikan kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang menjerat klien kami, tidak ada fakta lain di luar kasus yang menjerat TCW, selain terkait aliran dana kepada seseorang. Bukti aliran dana itu sudah diserahkan ke KPK. Bahkan saksi-saksi terkait persoalan itu sudah diperiksa KPK,” ujar Sukatma, Selasa (29/11).

Menurut Sukatma, berdasarkan bukti dan keterangan saksi yang sudah diserahkan ke KPK, aliran dana ke seseorang itu hampir mencapai Rp 14 miliar. “Aliran dana itu ternyata tidak hanya sekali, tetapi beberap kali. Jumlahnya bukan hanya Rp 1,2 miliar tetapi mencapai belasan miliar setelah semua bukti dikumpulkan,” ujarnya.

Ketika ditanya, siapa yang menerima aliran dana tersebut, Sukatma mengatakan, persoalan aliran dana ke seseorang itu pernah terungkap di persidangan kasus TCW oleh bendaharanya, Yayah Rodiah. Ketika ditanya lebih lanjut, apakah seseorang yang menerima aliran dana itu adalah Rano Karno, Sukatma tidak membantah.

“Nanti semuanya akan terbuka ketika kasus TPPU TCW mulai disidangkan. KPK juga pasti mengungkap yang sudah disampaikan Ketua KPK,” ujarnya.

Sukatma memastikan, barang bukti dan saksi keterlibatan Rano Karno dalam kasus TPPU sangat kuat. Menurutnya, ada dua kasus yang diduga akan menjerat Rano Karno. Pertama , kasus TPPU yang di dalam nya diduga ada aliran dana ke Rano Karno sebagaimana pernah diungkapkan bendahara TCW, Ibu Yayah dalam persidangan. Kedua, satu kasus lagi masih dalam proses penyelidikan.

“Sejumlah saksi telah KPK termasuk sejumlah pejabat di lingkungan Pemprov Banten,” ujar Sukatma.

Menurut Sukatma, bukti aliran dana dari TCW ke Rano Karno itu ada dan sudah diserahkan ke KPK. Sejumlah saksi terkait aliran dana itu juga telah diperiksa KPK. “Kita tinggal menunggu kasus TPPU itu dilimpahkan ke pengadilan, nanti di sana akan terbuka semua,” tambahnya.

Sukatma menjelaskan, saksi kunci aliran dana dari TCW ke Rano Karno adalah Agus Uban dan telah meninggal dunia. Namun, bukan hanya almarhum Agus Uban yang menjadi saksi satu-satunya, masih ada sejumlah saksi lain termasuk bendahara TCW, Yayah Rodiah.

“Mungkin mereka berpikir bahwa dengan meninggalnya saksi almarhum Agus Uban, persoalan itu menjadi selesai. Masih ada saksi lain dan barang buktinya juga ada. Aliran dana dari TCW ke Rano Karno bukan hanya itu saja, tetapi juga ada dana yang diantar langsung oleh pejabat Pemprov Banten dari TCW ke Rano Karno. Pejabat bersangkutan juga telah diperiksa KPK,” katanya.

Sukatma menyakini, penyelidikan dan penyidikan oleh KPK terkait keterlibatan Rano Karno sedang diproses.

“Percayalah, Rano itu memang terlibat dalam perkara ini. Kalau nggak percaya, itu tanya ajudannya Rano yang namanya Yadi, dan lain-lain, mereka sudah diperiksa oleh KPK,” kata Sukatma.

Sukatma meyakini pihak KPK tidak akan mungkin membuka proses penyelidikan dan penyidikan yang sedang berlangsung. “Saya percaya KPK, dan kami serahkan sepenuhnya proses hukum kepada penyidik KPK,” tambahnya. (Hendy – sisidunia.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*