sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Akibat Gila, Pasutri Tega Masukkan Putranya Dalam Kandang

Akibat Gila, Pasutri Tega Masukkan Putranya Dalam Kandang



Sukabumi – Pasangan suami istri, Manun (60) dan Eni (45) terpaksa memasukkan putra pertamanya, Aji (29) ke dalam kandang yang terbuat dari bambu. Selama setahun Aji sudah hidup di dalam kandang berukuran 1×2 meter.

Akibat Gila, Pasutri Tega Masukkan Putranya Dalam Kandang

“Saya terpaksa kang, mau berobat enggak punya biaya. Dia sakit sudah 4 tahun dan baru 1 tahun ini dia kami buatkan tempat. Kalau di luar suka mengamuk dan merusak barang, kadang-kadang melukai badannya sendiri,” tutur Eni, Minggu (27/11/2016).

Baca juga : Diduga Keracunan, Belasan Tamu di Larikan Ke Puskesmas

Pasutri warga Kampung Cipeusing RT 01/RW 05, Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, itu menyebut Aji adalah penderita gangguan jiwa. Kandang itu dibuat Manun dan berada di samping rumah. Setiap harinya, Aji duduk dengan kaki tertekuk.

Eni mengaku bosan meminta bantuan ke pemerintah lewat aparat desa setempat. Menurutnya, hal itu percuma karena bantuan yang diharapkannya tidak pernah datang.

“Sehari-hari saya mengandalkan suami, sudah tua kerja serabutan. Jangankan untuk berobat untuk makan kami saja susah, ngandelin pemerintah apalagi enggak pernah ada jawaban,” lanjut Eni.

Tubuh Aji terlihat kurus dan warna kulitnya pucat. Kandang bambu itu tak terlalu rapat hingga jari-jari pria itu bisa dengan leluasa keluar sebagai satu-satunya cara berkomunikasi dengan orang yang ada di sekitarnya.

“Kalau waktu makan, saya kasih makanan dari atas. Kalau lapar jari-jari tangannya keluar kayak menggapai-gapai. Kalau malam atau hujan tempatnya itu saya tutup pakai terpal biar enggak kedinginan,” imbuhnya.

Eni berkali-kali menghindari kata kandang dan mengganti dengan sebutan ‘tempat’. Ia mengaku tak tega karena bagaimana pun Aji adalah darah dagingnya sendiri.

“Hati kecil saya teriak kang, enggak tega bagaimana pun dia anak saya. Tapi saya enggak punya pilihan selain menempatkannya di situ,” ucapnya lirih.

Harapan Eni, pemerintah merespons keinginannya agar Aji diobati dan sembuh. “Saya ingin anak saya menjalani pengobatan dan sembuh, tapi untuk biaya ke rumah sakit dan hidup sehari-hari saja kami sulit,” ucapnya.

(bens – sisisdunia.com)