sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » Gaya Hidup » Wanita Ini Berprofesi Sebagai Tukang Sunat Perempuan

Wanita Ini Berprofesi Sebagai Tukang Sunat Perempuan



Jakarta – Lebih dari 200 juta wanita dan anak perempuan yang masih hidup telah menjalani sunat perempuan. Praktik ini sudah dilarang di beberapa negara di Afrika, tapi tidak di Sierra Leone, di mana para pesunat masih bangga dengan profesi mereka.

Wanita Ini Berprofesi Sebagai Tukang Sunat Perempuan

“Saya sudah menyunat ratusan anak perempuan,” kata Memunatu Turay dengan bangga.

“Tapi saya tidak bisa memberi tahu Anda persisnya bagaimana saya menjalankan tradisi kuno ini, kecuali kalau Anda bergabung dalam komunitas rahasia kami.”

Senyuman lebar tersungging di wajahnya saat dia melihat raut wajah ketakutan saya.

“Ayo ikut saya,” katanya. “Saya bisa menyunat Anda dan dengan begitu saya bisa memberi tahu Anda apa yang ingin Anda ketahui.”

Memunatu dengan jelas menikmati percakapan kami, dan akhirnya dia tertawa terbahak-bahak. Dengan sopan saya menolak tawarannya.

Kami duduk di rumahnya di daerah kumuh di Freetown bagian barat. Sebuah foto putrinya yang mengenakan toga tergantung di tempat yang dibanggakan di dinding berwarna kuning cerah.

“Dia sudah disunat dan lihatlah, dia baik-baik saja, dia mendapatkan pendidikan layak,” kata Memunatu, dengan wajahnya berseri-seri.

Perempuan berusia 56 tahun ini menunjukkan sifat hangat dan galak bersamaan. Dia membanggakan diri dengan mengatakan dirinya adalah salah satu dari pesunat yang paling terpercaya dan memiliki banyak pasien -atau soweis seperti apa yang mereka sebut di Sierra Leone- di seluruh Freetown.

“Ini adalah tradisi kuno dan hebat,” ujarnya bersikeras.

“Kami tidak menyakiti anak-anak perempuan, saya tidak akan pernah menyakiti mereka. Dan ini bukan cuma tentang sunat saja. Kami mengajari mereka bagaimana menjadi istri, memasak, dan bersih-bersih,” jelasnya.

“Kami ada pesta-pesta besar untuk inisiasi tersebut, di mana kami menari dan menyanyi, dan bersenang-senang.”

Pikiran saya kembali pada bulan Juli saat saya di Kenya sedang menginvestigasi upaya penghentian sunat perempuan di sana. Praktik tersebut dilarang di negara tersebut pada 2011. Pengalaman saya di sebuah desa di sana adalah sesuatu yang melekat di benak saya.

Satu mantan pesunat menyetujui untuk mendemostrasikan apa yang dulu dia lakukan pada anak-anak perempuan.

Temannya memegang erat pergelangan-pergelangan tangan saya, lalu menyilangkannya dengan rapat di dada saya, dan menarik saya ke lantai di luar pondoknya.

Saya duduk dengan kaki-kaki saya berada di antara kedua kakinya yang kuat waktu dia merapatkannya di sekitar pinggul saya, membuat saya susah untuk bergerak.

Dia adalah perempuan tua dan saya tidak bisa menebak dari mana dia mempunyai kekuatan seperti itu.

Lalu, mantan pesunat tersebut membuka kaki saya dan menunjukkan -dengan menggunakan bentuk oval yang digunakan dengan ibu jari dan jari tengahnya- bagaimana dia memotong bagian dalam bibir vagina anak perempuan dengan pisau, dan memotong klitoris, lalu membuang semuanya ke tanah.

Saya merasa mual seketika itu juga.

Setelah pengalaman aneh dan mengerikan itu, serta mendengar cerita-cerita bagaimana anak-anak perempuan disunat, saya merasa lebih risau.

Tiga kata berulang kali muncul waktu mereka menggambarkan pengalamannya: ketakutan, penderitaan yang mendalam, dan pengkhianatan.

Ibu, nenek, dan bibi -para perempuan di keluarga- mereka lah yang membuat mereka menjalani ritual menyakitkan dan menghinakan tersebut.

Dan di sini, di Sierra Leone, sebuah negeri yang mayoritas penduduk perempuannya sudah disunat, saya sedang berbasa-basi dengan pesunat profesional yang membanggakan diri.

Dia memberi tahu saya dia menerima sekitar satu juta Leones (sekitar Rp2,4 juta) untuk setiap anak perempuan yang dia sunat. Dia juga diberi minyak kelapa sawit, kambing, dan karung-karung berisi beras,

Di sebuah negeri di mana dua per tiga orang hidup dalam kemiskinan, menjadi pesunat cukup menghasilkan banyak uang.

Bagaimana dengan rasa sakit dan trauma yang disebabkan dari sunat? Dan kasus-kasus kematiannya? Memunatu tidak mempunyai pengalaman-pengalaman seperti itu.

“Semuanya bohong,” dia memberi tahu saya. “Ini bagus untuk perempuan. Satu pria tidak cukup bagi seorang perempuan yang belum disunat,” lanjutnya. “Tapi, waktu dia diinisiasi, dia menjadi puas secara seksual dan setia pada satu pria saja,” jelasnya.

Jujur saja, saya merasa marah.

“Anda dan saya adalah perempuan,” protes saya.

“Saya belum pernah disunat dan saya tidak bergonta-ganti pasangan. Mempunyai klitoris bukan berarti merasa terdorong untuk melakukan seks dengan banyak lelaki,” ujar saya.

Dia tertawa dan meraih lengan saya, menyejajarkannya dengan lengannya. “Anda berbeda dengan kami,” dia memberi tahu saya.

“Lihatlah, Anda berkulit kuning, saya hitam. Kita berdua perempuan tapi kita tidak sama. Anda tidak akan pernah memahaminya,” katanya.

Saya bertanya kepada Memunatu apa yang dia akan lakukan jika pemerintah melarang praktik ini.

“Kami akan memprotes kantor-kantor presiden,” teriaknya. “Mereka tahu ini adalah tradisi penting. Banyak dari mereka ada di dalam komunitas rahasia kami.”

Setelah menggembar-gemborkan tentang ketidak adilan, dia menarik napas dalam-dalam. “Jika mereka menginginkan kami untuk berhenti, mereka harus mencari hal lain untuk kami lakukan. Jika ingin menyapih bayi, perlu diberikan susu penggantinya kan?” ujar pesunat tersebut.

Saya mengatakan, jika ini adalah logika dia, maka inisiasi ini baginya adalah tentang uang saja dan bukan tradisi kuno. “Ini tentang keduanya,” katanya. (Hendy – sisidunia.com)