sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Pembatasan Mobil Mewah Dianggap Sandiaga Mampu Atasi Kemacetan di DKI

Pembatasan Mobil Mewah Dianggap Sandiaga Mampu Atasi Kemacetan di DKI



Jakarta – Untuk mengatasi kemacetan di Jakarta, Pasangan cagub dan cawagub DKI Jakarta Anies Baswedan dan Sandiaga Uno memiliki cara sendiri. Pasangan yang diusung Partai Gerindra dan PKS ini ingin moratorium mobil mewah di Jakarta.

Pembatasan Mobil Mewah Dianggap Sandiaga Mampu Atasi Kemacetan di DKI“Memang saya yang pertama mengatakan untuk moratorium mobil mewah. Kendaraan mewah ini sudah cukup dulu di Jakarta,” kata Sandi saat ditemui di Balimester, Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu (23/11/2016).

Baca juga : Anies Menyebut Kemacetan Telah Membuat DKI Rugi Puluhan Triliun

Waga Jakarta yang menggunakan kendaraan pribadi secara tidak langsung berdampak pada kemacetan. Untuk itu jika adanya moratorium mobil mewah hal ini bisa mengurangi jumlah kendaraan pribadi yang beroperasi di Jakarta.

Sandi juga mengatakan, akan terus melakukan pembenahan transportasi di Jakarta. Integrasi transportasi Transjakarta juga akan terus ditingkatkan.

“Nanti kita juga kita berikan gerakan-gerakan yang bisa mengubah pola pikir dan Mas Anies itu ahlinya,” ucapnya.

Sandi mengatakan mobil mewah yang berada di atas harga Rp 3 miliar akan dilarang masuk Jakarta. “Standar mobil mewah itu kan tidak melanggar program pemerintah go green cars itu tidak di moratorium. Tapi kalau mobil di atas Rp 3 miliar kena moratorium. Sudah banyak mobil mewah berkeliaran di Jakarta sekarang saatnya berpindah ke angkutan umum,” ujar Sandi.

“Paling enggak ada shock terapi dari pemerintah dengan moratorium waktu setahun. Dengan adanya sistem ERP juga cukup membantu. Kalau masih ada yang bandel juga nati kita tinggikan pajaknya biar sangat memberatkan. Jadi kalau masih pakai mobil pribadi dia akan lebih banyak mengeluarkan uang dibanding dengan mereka yang telah beralih ke transportasi umum,” terang Sandi.

(bens – sisidunia.com)