sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Lika Liku Penerapan Program KJS Untuk Warga DKI

Lika Liku Penerapan Program KJS Untuk Warga DKI



Jakarta – Pelaksanaan program Kartu Jakarta Sehat (KJS) sudah tepat sasaran. Banyak masyarakat, khususnya kelompok masyarakat berpendapatan rendah terbantukan dengan adanya program KJS.

Lika Liku Penerapan Program KJS Untuk Warga DKI

Sosiolog Perkotaaan Yayat Supriatna mengatakan, keberhasilan program KJS harus dibarengi pembangunan infrastruktur kesehatan yang baik pula. Kata dia, jumlah peserta KJS saat ini sudah tidak sebanding dengan jumlah tenaga medis, kualitas pelayanan, dan jumlah rumah sakit.

“Program KJS membantu masyarakat, tapi yang menjadi tantangannya adalah antara jumlah peserta KJS dengan kemampuan pelayanan yang belum mendukung,” kata Yayat kepada wartawan seperti yang dilansir Metrotvnews.com, Kamis (24/11/2016).

Diungkapkan Yayat, layanan di rumah sakit belum maksimal. Dia berkata, banyak pasien KJS mendapat penanganan yang lama. Hal itu, karena jumlah tenaga medis dan jumlah mitra rumah sakit masih kurang.

“Tidak semua rumah sakit bekerja sama dengan program KJS. Belum lagi pasien nunggunya terlalu lama, harus berangkat jam lima subuh, baru dilayanai jam 10,” tutur dia.

Yayat juga mengkritisi soal pendataan peserta KJS. Dia menyebut, masih ada kelompok masyarakat yang belum mendapatkan program KJS. Terutama kelompok masyarakat yang memiliki risiko pekerjaan yang tinggi dan masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan.

Tapi, jauh lebih penting, kata Yayat, program KJS sejatinya bukan hanya membantu masyarakat mendapatkan layanan kesehatan. Akan tetapi, program KJS harus bisa menciptakan budaya hidup sehat kepada masyarakat.

“Di balik itu semua, harusnnya program KJS juga membentuk gaya hidup sehat. Kalau misalnya semua masyarakat sakitnya ditanggung pemerintah, yang capek juga pemerintahnya. Misalnya orang merokok dan pemabuk lalu sakit terus dikasih obat oleh pemerintah, kan tidak bisa,” terang Yayat.

Baca juga : Sosiolog Akui Jakarta Ditangan Ahok Sudah Cukup Memuaskan

Karena itu, menurutnya, indikator keberhasilan KJS bukan hanya sekadar dilihat dari seberapa banyak jumlah peserta KJS dan besarnya alokasi anggaran. Keberhasilan KJS bisa dilihat dari rendahnya tingkat kunjungan rumah sakit dan jumlah masyarakat yang menerapkan gaya hidup sehat.

“Dengan demikian budaya hidup sehat menjadi lebih penting dari sekadar punya kartu jakarta sehat. Jangan menganggap KJS semacam kartu garansi,” pungkas Yayat.
(Muspri-sisidunia.com)