sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Warga Perbatasan NTT Merasa Setelah 70 Tahun Indonesia Merdeka, Baru Kali Ini Merasakan Kemerdekaan Sesungguhnya

Warga Perbatasan NTT Merasa Setelah 70 Tahun Indonesia Merdeka, Baru Kali Ini Merasakan Kemerdekaan Sesungguhnya



Atambua – Tidak seperti warga lainnya di wilayah Republik Indonesia yang sudah menikmati listrik sejak lama, masyarakat di wilayah perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Timor Leste ini baru bisa menikmati terangnya cahaya lampu setelah 70 tahun Indonesia merdeka.

Warga Perbatasan NTT Merasa Setelah 70 Tahun Indonesia Merdeka, Baru Kali Ini Merasakan Kemerdekaan Sesungguhnya

Hal ini disampaikan oleh Andreas (41), salah seorang warga di Desa Takirin, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT. Desa Takirin menjadi satu dari delapan desa yang masuk ke dalam program listrik perbatasan dari PLN, yang bertujuan membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah perbatasan yang masih masuk dalam kerangka kesatuan NKRI.

“Makanya, kami pada saat peresmian tanggal 12 kemarin, sampai ada masyarakat yang bilang begini, selama Indonesia merdeka 70 tahun, baru merdeka sekarang. Kita merasa segar, nyaman, dan menikmati keindahan itu pas ada listrik masuk,” ujar dia saat ditemui di Desa Takirin, Atambua, Selasa (22/11/2016).

Andreas berujar, sebelum adanya listrik masuk ke desa mereka, penerangan desa hanya dibantu oleh pencahayaan dari lampu teplok (lampu tempel) yang menggunakan minyak tanah. Wilayah desanya yang tidak jauh dari pos perbatasan Timor Leste, membuat perbedaan cukup mencolok saat itu, meski wilayah perbatasan Timor Leste juga hanya dibantu lewat bantuan panel solar.

Bahkan untuk urusan administrasi yang membutuhkan print kertas di komputer, warga harus pergi dahulu ke Atambua dengan menggunakan transportasi ojek seharga Rp 50.000 pulang pergi.

“Kalau dulu urusan ketik-ketik harus ke Atambua dulu. Dari sini ke Atambua bayar Rp 25 ribu naik ojek. Padahal kita hanya urus satu lembar kertas ke Atambua,” ungkap Paulus, warga Desa Takirin lainnya yang juga ditemui dalam kesempatan yang sama.

“Tapi sekarang listrik sudah masuk, urusan administrasi di desa kita sudah bisa pakai komputer. Di sekolah juga seperti itu,” tambahnya.

Ia bercerita, bagaimana warga Timor Leste bahkan kini heran dengan terangnya daerah di Desa Takirin dan sekitarnya.

“Teman-teman di Timor-Timor bilang, oh sekarang ini di sana sudah terang sekali. Di sana orang sudah nyaman, padahal paling pelosok,” katanya.

Baca juga : 34 Proyek Listrik Mangkrak Era SBY, Presiden Jokowi Serahkan Kasus Ini Ke KPK

Kini, dengan adanya listrik yang mengaliri selama 24 jam, aktifitas warga pun mulai bertambah, termasuk aktifitas ekonomi yang membutuhkan daya listrik, seperti usaha ayam potong, kios, hingga pertukangan kayu.

“Baru pertama kali di kampung sendiri bisa lihat informasi di luar. Jadi selama ini kita tidak pernah melihat informasi seperti itu. Jadi kita sedikit paham lah keadaan atau informasi di luar. Anak-anak sekolah belajar sekarang juga sudah bagus,” tandasnya.

Asal tahu saja, sejumlah wilayah di NTT di daratan Pulau Timor masuk ke dalam program listrik perbatasan milik PLN. Desa Takirin menjadi yang pertama dialiri listrik pada tanggal 12 Agustus 2015 lalu. Dan diakhiri oleh Desa Nananoe pada tanggal 24 Desember 2015 pada malam misa natal.

Saat ini sumber pembangkit di sistem Atambua didominasi oleh PLTD berkapasitas 10 MW. Dengan daya mampu sebesar 9,4 MW, dan beban puncak pada malam hari 8,39 MW, saat ini sistem Atambua memiliki cadangan listrik 1,01 MW dengan rasio elektrifikasi mencapai 48%.
(Muspri-sisidunia.com)