sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Data WHO, Lebih Dari 200 Juta Perempuan Di Dunia Telah Disunat

Data WHO, Lebih Dari 200 Juta Perempuan Di Dunia Telah Disunat



Singapura – Zarifah Anuar tidak tahu bahwa dirinya telah disunat sewaktu masih bayi. Terungkapnya hal tersebut diawali dengan perbincangan dengan seorang teman.

Data WHO, Lebih Dari 200 Juta Perempuan Di Dunia Telah Disunat

“Dia bertanya apakah saya pernah sunat. Saya menjawab sangat yakin bahwa saya pasti tahu jika pernah mengalaminya,” kata Zarifah.

Baca juga : WHO Tetapkan Darurat Internasional Untuk Wabah Ebola

Namun, teman itu berkata lagi. “‘Kamu harus bertanya kepada ibumu’,” kata Zarifah, menirukan ucapan temannya.

Anjuran itu dituruti Zarifah dan kemudian dia mengetahui fakta sebenarnya. Zarifah baru berumur dua pekan tatkala ibunya membawa dia ke bidan untuk disunat di bagian klitoris.

“Perbincangan yang tadinya santai dan riang segera berubah menjadi masam dan tidak enak. Saya bertanya ke ibu saya, ‘Apakah saya menangis? Apakah saat itu saya tertidur? Apakah saya terbangun?’. Beliau tidak menjawab dan berkata percakapan ini selesai,” tutur Zarifah, yang berusia 23 tahun ketika akhirnya tahu bahwa dia telah disunat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan lebih dari 200 juta perempuan di seluruh dunia telah disunat dengan beragam cara, mulai dari penghilangan klitoris hingga penjahitan bagian labia.

Sebagian besar warga Singapura tidak tahu bahwa praktik itu berlangsung di negara-kota tersebut. Namun, nyatanya, sunat perempuan telah dilakukan selama bertahun-tahun, biasanya oleh warga etnik Melayu beragama Islam, yang berjumlah 13% dari total populasi.

Umumnya praktik itu dilakukan terhadap anak perempuan sebelum berusia dua tahun, dengan cara memotong ujung klitoris.

“Banyak teman muslim saya yang keturunan India tidak mengalami prosedur ini dan kami terkejut praktik semacam ini masih berlangsung di komunitas Melayu,” kata Filzah Sumartono, yang mengetahui saat remaja bahwa dirinya telah disunat sewaktu bayi.

Singapura tidak memiliki landasan hukum untuk menentang praktik sunat perempuan. Namun, banyak warga muslim yang mendapat arahan dari Dewan Agama Islam Singapura (MUIS), sebuah badan yang mengatur masalah-masalah keagamaan untuk warga muslim.

Ibrahim Sawifi dari MUIS mengaku pihaknya “tidak menerima prosedur apapun yang mencederai seseorang.” DIa menambahkan bahwa MUIS “selalu bersikap bahwa sunat perempuan seharusnya dihindari.”

Akan tetapi, banyak warga muslim Melayu, khususnya generasi yang lebih tua, meyakini prosedur itu akan mengurangi gairah seksual seorang perempuan sehingga mengurangi risiko perselingkuhan dalam pernikahan.

Lainnya meyakini praktik itu harus dilakukan lantaran merupakan bagian dari hukum Islam, walau tidak disebut sebagai kewajiban dalam Alquran.

“Saya telah mengalaminya, putri saya mengalaminya, dan saya tentu ingin cucu perempuan saya mengalaminya,” kata seorang perempuan muslim Melayu berusia 45 tahun kepada BBC. “Ini adalah sesuatu yang diharuskan bagi kami dalam Islam.”

“Jika (sunat perempuan) dilakukan, orang itu akan mendapat pahala ekstra. Namun jika tidak dilakukan, orang itu tidak dianggap berdosa atau menentang aturan dalam Islam,” kata Dr Maznah Mohamad dari Departemen Kajian Melayu, Universitas Nasional Singapura.

Namun, menurut Maznah, masyarakat masih takut dianggap melawan Islam jika mereka tidak menyunat anak perempuan mereka.

Filzah Sumartono, seorang aktivis yang berperan sebagai koordinator bagian hak kesetaraan gender di LSM Aware, menilai sunat perempuan bermakna mendalam bagi perempuan dan tubuhnya.

“Kita mulai berusaha mengendalikan tubuh perempuan sejak anak-anak. Itu adalah tanda bagi seorang anak bahwa tubuhnya bukan miliknya, tapi milik komunitas,” kata Filzah.

“Seorang anak berusia dua pekan tidak tahu apa-apa. Bagaimana dia memberi persetujuan atau tidak?” timpal Zarifah.

Menurut Zarifah, semua perempuan muslim Melayu di Singapura yang dia kenal telah menjalani sunat. Dan semuanya tidak tahu sampai mereka bertanya kepada orang tua masing-masing.

“Orang tua seharusnya bertanggung jawab atas keselamatan anak mereka, praktik ini benar-benar bertolak belakang. Ada bagian dalam diri saya yang menyesal telah bertanya karena sekarang saya tahu bahwa tubuh saya bukan punya saya,” ujarnya.

Tapi tidak semua orang sepakat dengan sikap tersebut.

“Ada banyak hal yang dilakukan orang tua tanpa persetujuan anak mereka, karena cinta dan demi kebaikan si anak,” kata Siti (bukan nama sebenarnya), seorang pembantu rumah tangga berusia 28 tahun.

“Orang tua mana yang sengaja mencelakai anak mereka sendiri?” tanya Siti, yang mengalami sunat sewaktu kanak-kanak.

Siti berargumen bahwa dia tidak akan tahu perbedaan jika dia tidak atau tetap menjalani praktik sunat. “Namun saya bisa merasakan apa yang perlu dirasakan. Itu tidak membuat keperempuanan saya berkurang.”

Lepas dari perbedaan pendapat mengenai sunat perempuan, semua sepakat bahwa pemahaman akan praktik tersebut sangat diperlukan.

“MUIS harus menciptakan dialog mengenai topik ini untuk membantu memajukan komunitas dan melengkapi orang tua muda dengan pemahaman yang mereka perlukan demi membuat keputusan,” kata Siti.

Soal dialog, Zarifah menggarisbawahi.

“Komunitas muslim Melayu perlu berdialog mengenai hal ini dan memahami serta menerima bahwa praktik ini melawan hak asasi perempuan. Saya menolak menerima bahwa perbincangan ini telah selesai.”

(bens – sisidunia.com)