sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Semua Menlu Anggota OKI Dipanggil Ke Arab Saudi. Ada Apa Kira-Kira ?

Semua Menlu Anggota OKI Dipanggil Ke Arab Saudi. Ada Apa Kira-Kira ?



Saudi Arabia – Menteri Luar Negeri Retno L.P Marsudi pergi ke Arab Saudi beberapa waktu lalu untuk menghadiri pertemuan darurat negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Semua Menlu Anggota OKI Dipanggil Ke Arab Saudi. Ada Apa Kira-Kira ?

Pertemuan darurat ini dibuat karena akhir bulan lalu, Saudi mengatakan pemberontak Yaman meluncurkan rudal ke arah Kota Suci Makkah namun serangan itu berhasil digagalkan.

“Ibu (Menlu Retno) berangkat besok dan pertemuan dilaksanakan 17 November mendatang di Makkah,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir, saat ditemui di Kementerian Luar Negeri, Selasa (15/11) kemarin.

Menurut pria akrab disapa Tata itu, salah satu negara anggota OKI bisa saja memanggil negara lain untuk melakukan pertemuan darurat ketika ada satu hal yang dianggap penting dan mendesak.

“Kemungkinan ada dua yang dibahas, pertama terkait dengan adanya peluncuran rudal yang diduga dari Yaman ke Saudi beberapa waktu lalu, dan kedua kemungkinan ada mekanisme penggantian Sekjen OKI,” ujar Tata.

Peluncuran rudal tersebut dianggap membuat ketidakstabilan di kawasan.

Baca juga : Polri Resmi Menetapkan Ahok Sebagai Tersangka, Amnesty Internasional Minta Hentikan Pengusutan

Namun, hal tersebut dibantah para pemberontak. Mereka menyebutkan mengarahkan rudal ke Bandara Internasional Jeddah, bukan ke Makkah. Konflik di Yaman dimulai sejak 2012 ketika pemerintahan pimpinan Presiden Syiah Ali Abdullah Saleh digulingkan dan digantikan oleh Presiden Sunni Abd Rabbu Mansur Hadi yang didukung Saudi.

Pada 2014 pemberontak Houthi pendukung Saleh menguasai Ibu Kota Sanaa dan sejumlah wilayah Yaman, memaksa Hadi hengkang dari negaranya. Houthi didukung oleh Iran. Kemudian sejak Maret tahun lalu Arab Saudi menggalang dukungan negara lain buat menggempur pemberontak Houthi, menyebabkan konflik makin memanas dan banyak korban sipil tewas.
(Muspri-sisidunia.com)