sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Donald Trump Terpilih Jadi Presiden AS, Para Wanita Muslim WNI Mulai Khawatir

Donald Trump Terpilih Jadi Presiden AS, Para Wanita Muslim WNI Mulai Khawatir



Boston – Saat berkampanye beberapa bulan lalu, Donald Trump telah melontarkan beragam pernyataan mengenai umat muslim, termasuk pemantauan terhadap masjid-masjid di AS, pengawasan kepada umat Islam, dan upaya terpadu agar kaum muslim tidak memasuki Amerika Serikat.

Donald Trump Terpilih Jadi Presiden AS, Para Wanita Muslim WNI Mulai Khawatir

Lily, seorang orang tua tunggal di Boston, Negara Bagian Massachusetts, Amerika Serikat mengungkapkan kekhawatiran akan keselamatan diri dan kedua anaknya manakala Donald Trump menduduki kursi kepresidenan AS beberapa bulan mendatang. Dia mengisahkan bagaimana pelecehan terhadap dirinya terjadi sejak Donald Trump mulai berkampanye beberapa waktu lalu.

“Saat saya sedang menyetir mobil di jalan tol, ada dua pengendara motor besar yang mengapit kendaraan kami. Mereka melihat saya berhijab, lalu mereka melaju ke depan mobil seperti menghalang-halangi, lalu mengacungkan jari tengah,” kata Lily.

Pelecehan seperti itu membuat Lily dan sesama perempuan muslim di daerah tempat tinggalnya sepakat untuk saling menguatkan.

“Saya agak khawatir. Makanya tadi pagi di masjid dekat rumah saya, ada ibu-ibu berkumpul untuk mendukung satu sama lain. Imam di masjid juga mengimbau kepada kami untuk tidak ‘mencari gara-gara’. Lalu kalau ada perdebatan yang memanas, tinggalkan saja. Kemudian upayakan untuk tidak terlalu kelihatan,” tutur Lily.

Walau tidak pernah mendapat serangan verbal atau tindakan pelecehan, Putri Budiman, perempuan muslim asal Indonesia yang menetap di Kota Washington DC, juga merasa cemas dengan keselamatannya. Menurut Putri, sejak Donald Trump melancarkan kampanye, pebisnis itu kerap melontarkan pernyataan kebencian yang berpotensi memicu kedengkian sejumlah warga AS terhadap umat muslim.

“Saya sangat khawatir karena Trump membawa pola pikir bahwa ‘It’s OK to hate’ orang-orang yang beda dengan dia, beda dengan orang kulit putih. Di media sosial orang-orang yang menyampaikan pernyataan rasisme dan seksisme mulai keluar. Mereka lebih vokal mengutarakan nada diskriminasi,” kata Putri.

Hal itu diamini Shofi Awanis, mahasiswa asal Indonesia yang menempuh studi di Universitas Columbia, Kota New York.

“Kalau ditanya kondisi, saya baik-baik saja. Tapi sekarang saya agak takut dengan orang-orang yang punya kecenderungan ingin mendiskriminasi tapi selama ini diam, jadi merasa punya legitimasi untuk melakukan diskriminasi terhadap kami,” papar Shofi, yang dalam kesehariannya mengenakan jilbab.
(Muspri-sisidunia.com)