sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » Gaya Hidup » Cinta VS Nyaman : Sebuah Renungan Singkat Untuk Melangkah Ke Pelaminan

Cinta VS Nyaman : Sebuah Renungan Singkat Untuk Melangkah Ke Pelaminan



Jakarta – Ketika seseorang jatuh cinta, umumnya ia akan lebih banyak tersenyum dan memancarkan aura positif ke mana pun ia pergi. Namun sayangnya, dalam kondisi yang sama, seseorang bisa menjadi lebih acuh tak acuh atau lupa akan pentingnya menghabiskan waktu dengan keluarga, teman dan sosok-sosok penting lain di hidupnya.

Cinta VS Nyaman : Sebuah Renungan Singkat Untuk Melangkah Ke Pelaminan

Terlebih lagi, keputusan dan pilihan hidup, termasuk karir, gaya hidup, sudut pandang lalu juga tata krama, secara langsung dan tidak dipengaruhi oleh pasangannya. Jika pasangannya adalah tipe yang suportif, maka tidak ada masalah dengannya melakukan hal dan menggapai mimpinya yang telah ia kembangkan sedari dulu sebagai individu.

Akan tetapi, jika pasangannya terbukti lebih dominan, keputusan orang tersebut cenderung akan lebih banyak dikendalikan dan ini bisa membuatnya berhenti atau terjauhkan dari cita-cita dan impian positif yang sebetulnya ia inginkan. Mari simak perbedaan betul cinta dan sekedar nyaman dengan pasangan menurut berbagai sumber, Minggu (13/11/2016):

1. Perhatikan kata-katanya

Jika lebih sering mengatakan ‘aku butuh kamu’ dibandingkan ‘aku sayang/cinta kamu’, maka ini membuktikan pasangan tersebut hanya sekedar nyaman. Cinta itu tidak egois dan bukanlah suatu kebutuhan yang mengharuskan seseorang hadir dalam hidup orang lain hanya di momen-momen tertentu saja, khususnya yang lebih banyak bernuansa sukacita. Ketika duka melanda, umumnya mereka yang hanya sekedar nyaman akan lebih memilih untuk menghindar, sekedar menasehati singkat lalu enggan untuk berada di sekitar pasangannya yang sedang galau akan masalah lain.

2. Perhatikan niatnya

Jika sudah terlalu lama berpacaran namun sang pria tidak kunjung datang ke orangtua wanita untuk menikahinya dengan alasan situasi finansial, pekerjaan atau ketidaksiapan, maka sangatlah mungkin orang tersebut hanya sudah terlalu nyaman tapi masih ragu soal komitmen. Jika ia betul-betul ingin serius melangkah bersama wanita tersebut, tidak akan ada apa pun yang menghalanginya, bahkan perbedaan tradisi atau latar belakang.
Cinta tulus akan membuatnya berani mengambil keputusan dan menghadapi risiko pahit yang mungkin ia dapat untuk memperjuangkan hubungannya. Uang bisa dicari bersama-sama, pekerjaan dan kesuksesan itu bisa dijalankan sekaligus diraih seiring berjalannya pernikahan, jadi kebanyakan alasan harusnya sudah membuat seorang wanita lebih sadar akan tidak niatnya pasangan untuk menikahinya dan hanya ingin ada keberadaan sang wanita di sisinya agar tak kesepian.

3. Perhatikan sifatnya

Jika pasangan terlalu sering menghindari perbincangan seputar pernikahan, maka dirinya memang belum siap atau belum merasa cinta dan hanya merasa nyaman menghabiskan waktu dengan pasangannya. Awas, jika terlampau lama hubungannya dan tidak ada kejelasan, maka sakit hati yang harus dilewati bisa berjangka panjang dan memicu depresi akut.

4. Perhatikan cara pikirnya

Jika masih terlalu sering bertengkar karena salah satu atau keduanya melakukan kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya berarti hanya sekedar nyaman. Cinta tidak akan membuat seseorang ingin menyakiti pasangannya dan ia akan belajar untuk menghindari dirinya dari potensi melakukannya lagi.

5. Perhatikan gerak-geriknya

Jika terlalu cepat baikan setelah bertengkar dan lebih sering menyelesaikan masalahnya dengan make-up sex, maka sangatlah mungkin itu hanya sekedar nyaman. Cinta akan membuat kedua pihak dalam suatu hubungan berpikir lebih panjang ketika dilanda masalah seputar hubungannya. Mereka pun akan lebih memilih untuk menyelesaikannya secara verbal, non-seksual dan dewasa.

Demikian beberapa hal yang membedakan antara cinta dengan kenyamanan. Akan tetapi, masih banyak contoh lain yang pantas dijadikan bahan renungan untuk memastikan bahwa seseorang itu betul-betul cinta dan yakin akan pasangannya sebagai pendamping hidup atau hanya menganggap pasangannya zona aman sekaligus nyaman di waktu-waktu tertentu saja dalam hidupnya.
(Muspri-sisidunia.com)