Home » News » Donald Trump Jadi Presiden, Bagaimana Nasib Umat Muslim di AS ?

Donald Trump Jadi Presiden, Bagaimana Nasib Umat Muslim di AS ?



Jakarta — Presiden Amerika Serikat saat ini, Donald Trump, lagi-lagi membuat kontroversi karena diduga mendukung diskriminasi berbasis agama.

Donald Trump Jadi Presiden, Bagaimana Nasib Umat Muslim di AS ?

Dalam kampanye terbuka beberapa waktu lalu yang digelar di negara bagian New Hampshire pekan ini, Trump tak memberikan bantahan saat pada sesi tanya-jawab, seorang pria bertanya, “Kapan kita bisa menyingkirkan semua Muslim dari Amerika Serikat?”

Baca juga : Video Aksi Nakal “Donald Trump” Dengan Model Bikini Ini Mengundang Kontroversi

Pria yang sama juga menyatakan bahwa mantan Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama, merupakan seorang Muslim dan bukan warga negara Amerika Serikat.

Dilansir oleh CNN, berikut ini kutipan dari pria yang tak menyebutkan identitasnya sebelum bertanya ini,

“Ada persoalan di negara ini, namanya Muslim. Kamu tahu bahkan presiden kita adalah salah satunya, dia bahkan bukan warga negara Amerika Serikat. Bahkan ada tempat pelatihan di mana mereka (umat Muslim) ingin membunuh kita. Pertanyaan saya, kapan kita bisa menyingkirkan mereka semua?”

Trump tak membantah tentang pernyataan sang penanya bahwa Obama bukanlah seorang Muslim dalam jawabannya.

“Kita akan memberikan perhatian terhadap isu itu. Kamu tahu, ada orang lain yang mengatakan hal yang sama dan bahwa hal yang buruk sedang terjadi. Kita akan memberikan perhatian terhadap isu ini,” katanya sebelum melanjutkan menjawab pertanyaan penanya lain.

Tak lama setelah kejadian ini, bakal calon terkuat Partai Demokrat Hillary Clinton ikut angkat bicara, menyesalkan respons Trump yang menurut Hillary sangat keliru.

Melalui akun Twitter-nya, Trump merespon kontroversi ini.

“Apakah saya memiliki kewajiban moral untuk membela presiden setiap kali seseorang mengatakan hal yang buruk tentangnya?” cuit pria yang juga dikenal sebagai pengusaha ini.

Trump juga berpendapat bahwa mengoreksi pernyataan sang penanya juga tak solutif karena ia bisa dituduh melanggar hak menyatakan pendapat.

Trump baru-baru ini menjadi headline di media massa Indonesia setelah Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Setya Novanto menghadiri konferensi persnya di New York, awal September lalu.

Diketahui sebelumnya, melalui kerjasama dengan pengusaha Hary Tanoesoedibjo, Trump juga mengumumkan akan berinvestasi hotel dan taman hiburan di Indonesia. (bens – sisidunia.com)