sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Polemik Penistaan Agama, Deddy Mizwar Bandingkan Ahok Dengan Arswendo

Polemik Penistaan Agama, Deddy Mizwar Bandingkan Ahok Dengan Arswendo



Bandung – Kasus dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) didesak wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar agar diproses hukum secara serius.

Polemik Penistaan Agama, Deddy Mizwar Bandingkan Ahok Dengan Arswendo

Wagub Deddy mengatakan pemerintah jangan sampai melakukan pembiaran terhadap kasus itu karena menyangkut kepercayaan publik, terutama umat muslim, terhadap negara.

Baca juga : Petinggi Turki Tegaskan Tak Campuri Urusan Dalam Negeri RI

“Ini membingungkan masyarakat, apalagi ini penistaan terhadap masalah agama, harus ditangani secara serius, cepat, tegas,” katanya di Bandung, Jumat (4/11/2016).

Deddy menilai kasus tersebut tidak terkait dengan Pilgub DKI. Tapi karena kasus itu mencuat saat berdekatan dengan pesta demokrasi lima tahunan, kasus itu dipolitisir dan terkesan bukan murni penistaan agama.

“Padahal ini murni menurut saya masalah penistaan agama,” cetusnya.

Ia lalu mengungkap sejumlah nama yang sempat mencuat ke permukaan karena kasus penistaan agama, salah satunya Arswendo Atmowiloto. Karena itu menurutnya hal serupa juga harusnya ditegakkan terhadap Ahok meski merupakan pejabat negara.

“Masa pejabat enggak boleh diusut? Wah ini bencana buat sebuah negara, bencana, karena trust (kepercayaan terhadap negara) sudah enggak ada lagi,” ungkap Deddy.

Menurutn Deddy, ada tiga hal yang harus ada dalam negara, yaitu senjata, makanan, dan kepercayaan. Senjata dan makanan boleh hilang. Tapi kepercayaan mutlak harus tetap ada.

“Kalau harus hilang lebih dulu yang mana? Dua saja boleh. Hilang senjata enggak apa-apa, yang penting ada makanan dan kepercayaan. Dari dua ini (makanan dan kepercayaan), mana yang harus ilang? Makanan. Enggak apa-apa mati enggak ada makanan. Tapi kalau kepercayaan yang hilang, bencana yang datang. Jangan sampai kepercayaan kepada negara hilang, itu sangat bahaya,” pungkasnya. (bens – sisidunia.com)