sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Bekerja di Korsel, TKI Diiming-imingi Gaji Rp 20 Juta

Bekerja di Korsel, TKI Diiming-imingi Gaji Rp 20 Juta



Yogyakarta – Sebanyak 2.049 orang calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) merebut peluang bekerja pada sektor perikanan di Korea, pada tahun 2016, dengan gaji sebesar Rp20 juta per bulan.

Bekerja di Korsel, TKI Diiming-imingi Gaji Rp 20 Juta

“Ribuan TKI berebut untuk bekerja di sektor perikanan di Korea, dengan tawaran upah minimum saat ini sebesar 1,2 juta won atau setara Rp13 juta, dan takehome pay-nya bisa mencapai Rp20 jutaan per bulan,” kata Adi Surya Anggota Asosiasi Kelautan Indonesia, Jumat (28/10/2016).

Ia mengatakan, para TKI tidak semuanya merupakan mantan nelayan yang ingin beralih profesi di Indonesia, ataupun yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari perusahaan perikanan di Indonesia karena kebijakan pemerintah.

“Siapa saja bisa mendaftar, termasuk nelayan. Asal syarat dan biaya bisa terpenuhi,” kata dia.

Nusron Wahid Kepala Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) mengatakan, sektor perikanan menjadi salah satu sektor yang memberikan kontribusi terhadap meningkatnya kasus TKI Overstayer di Korea Selatan.

Karena itu, tambah Nusron, kompetensi itu persyaratan mutlak bagi calon TKI yang hendak ke Korea, apalagi gaji di sektor perikanan itu sama besarnya dengan tenaga kerja asing lainnya, bahkan sama dengan tenaga kerja asal Korea yang bekerja pada bidang yang sama.

Menurut dia, diantara negara-negara pengirim lainnya ke Korea, Indonesia telah mengawali terlebih dahulu sistem poin untuk sektor perikanan di tahun 2016.

Namun, sistem ini akan diberlakukan juga di sektor manufaktur pada tahun 2017, dan acara diikuti sebanyak 2.049 peserta, katanya.

Moratorium TKI sektor perikanan yang diberlakukan pada tahun 2015 boleh dibuka kembali, tetapi dengan menambahkan syarat tambahan selain bahasa, kata Nusron. (Hendy – sisidunia.com)