Home » News » Pengakuan Bocah Eks Tentara ISIS Diperlakukan Tak Seperti Manusia

Pengakuan Bocah Eks Tentara ISIS Diperlakukan Tak Seperti Manusia



Gweyr – Aziz Abdullah Hadur, seorang komandan Peshmerga dari pejuang Kurdi dan Yazidi, mengatakan bocah-bocah atau mereka yang berhasil kabur dan kembali ke keluarganya terlihat menyedihkan. Pandangannya kosong.

Pengakuan Bocah Eks Tentara ISIS Diperlakukan Tak Seperti Manusia

“Saat mereka tiba di sini, mereka kurus kering. Tak seperti manusia,” kata Hadur.

“Mereka mengatakan kepada kami, mereka telah hidup di neraka,” ujar dia.

Hadur berkata ia dan pejuang Kurdi kadang terpaksa menembakkan senjatanya ke arah anak-anak binaan ISIS yang sengaja diperintah maju ke garis depan di Irak Utara.

“Tiap kali kami berhadapan dengan ISIS, kami selalu melihat anak-anak di garis depan. Mereka memakai rompi peledak. Mereka telah dicuci otaknya,” ujar Hadur.

Pasukan Peshmergas hanya punya sedikit waktu berpikir saat berperang dengan ISIS.

“Kami tidak tahu kapan mereka mendekati kami, apakah mereka adalah bocah-bocah yang kabur atau mereka ingin membunuh kami,” kata dia.

Hadur dan rekan pejuang Kurdi kerap dilema setelah ISIS makin sering mengirim tentara anak. Hal ini terjadi karena ISIS berada dalam tekanan militer dari pasukan asing. Sementara itu, mereka terkenal sebagai pasukan yang brutal, sehingga tak heran mereka mengirim pasukan anak lebih banyak.

Sebelum Nasir, bocah yang berhasil selamat dari cengkraman ISIS adalah Nouri, 11 tahun. Ia diculik dari keluarganya dan dibawa ke kamp ISIS di Tel Aafar, Irak Utara. Ketika ia menolak bergabung dengan bocah-bocah lainnya untuk berlatih perang, tentara ISIS mematahkan kakinya.

Namun Nouri dianggap beruntung. Ketika kakinya sembuh, ia tak dapat berjalan sempurna. ISIS menganggapnya tak berguna. Untungnya ISIS tak menembak mati dia. Ketika sang nenek datang mengiba untuk mengambil cucunya, ia diperbolehkan pergi.

Adiknya bernama Saman juga dibebaskan. Bocah yang masih 5 tahun itu mengalami kekerasan. Tangannya kerap dipukul tentara ISIS. Hal itu membuatnya trauma luar biasa.

Saman selalu berteriak di malam hari dan menderita kejang-kejang. Tiap kali ada orang asing berbicara dengan kakek neneknya, ia akan berlari menjauh, lalu bertanya, “Apa kamu akan memukuliku?”

Nouri dan Saman harus dirawat oleh kakek neneknya karena orangtua mereka dan adiknya yang masih bayi masih ditahan ISIS.

“Mereka ajak kami untuk berlatih, kami menolak karena takut. Lalu mereka mengajakku ke gunung, aku menolak, lalu mereka mematahkan kakiku. Itu yang membuatku selamat. Anak-anak lain dipaksa untuk mengikuti mereka,” Nouri menjelaskan.

Sang nenek, Gowra Khalaf, mengatakan semenjak kembali ke pangkuannya, Nouri lebih banyak diam di tenda dengannya.

“Ia tak mau pergi ke luar tenda. Ia hanya duduk di sini dekat denganku,” ujar Khalaf.

Nouri berkisah dengan suara lemah. Kerap kali berhenti dan menarik nafas sepanjang perbincangan. Ia lebih sering melihat ke bawah.

Ketidakadaan orangtua membuat hidup mereka makin nelangsa.

Di luar tenda hujan turun dengan deras. Suaranya menderu. Itu saja membuat Saman, yang sedang tidur di pangkuan kakeknya makin memperat pelukannya. Ia takut. Gemetar.
(Muspri-sisidunia.com)