Home » Ekonomi & Bisnis » Perubahan Iklim Dapat Berdampak Kerugian Pada PDB Indonesia

Perubahan Iklim Dapat Berdampak Kerugian Pada PDB Indonesia



Jakarta – Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank) mencatat bahwa jika perubahan iklim tidak dikontrol, maka dapat menimbulkan kerugian hingga 13% dari Produk Domestik Bruto Indonesia pada 2100.

Perubahan Iklim Dapat Berdampak Kerugian Pada PDB Indonesia

Perubahan iklim ditandai dengan anomali iklim dan suhu seperti meningkatnya suhu secara drastis, musim hujan lebih pendek, kekeringan yang menyebabkan penyebaran penyakit.
Hal ini tentu saja menyebabkan ancaman kesehatan dan produktivitas.

Menurut David Raitzer, ekonom Bank Pembangunan Asia, yang paling terdampak adalah orang-orang yang hidupnya bergantung pada alam, seperti petani atau nelayan. Namun bukan berarti orang-orang yang bekerja di kota tidak berdampak.

“Misalnya, jika Anda menghabiskan lebih banyak biaya untuk ‘mendinginkan’ industri, artinya industri akan kurang kompetitif. Infrastruktur perkotaan pun juga akan terdampak akibat iklim yang tidak menentu, lebih banyak hujan, sehingga lebih banyak banjir,” jelas David.

“Juga adanya masalah ketersediaan air bersih akibat musim kering berkepanjangan. Juga masalah kualitas udara yang diperburuk musim kering dan kebakaran lahan gambut,“ lanjut David

Bank Pembangunan Asia melaporkan bahwa jika perubahan iklim ini tidak segera dikontrol, maka akan menyebabkan kerugian yang setara 13% dengan Produk Domestik Bruto Indonesia pada 2100 atau 6% PDB pada 2050.

Produk Domestik Bruto pada dasarnya digunakan untuk mengukur besar ekonomi atau kemakmuran suatu negara. PDB juga merupakan salah satu metode untuk menghitung pendapatan nasional.

Saat ini saja PDB Indonesia sekitar US$1 triliun, sehingga 13% dari PDB adalah sebesar US$130 miliar atau sekitar Rp1.700 triliun. Jumlah yang sangat besar dan jumlah PDB biasanya meningkat setiap tahun. PDB Indonesia dalam empat tahun terakhir bertumbuh sebesar 5% per tahun. Sehingga besar prediksi kerugian perubahan iklim pada 2100 tersebut, dipastikan luar biasa besar.

Mungkin sulit membayangkan apa yang akan terjadi pada 2100 nanti, namun jika disederhanakan, meski tidak terlalu tepat, ekonom Fadhil Hasan berkata bayangkan jika Anda menerima gaji namun dipotong 13%, seperti itulah kira-kira ketika terjadi kontraksi ekonomi.
(Muspri-sisidunia.com)