sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » Techno » Mencuit Lewat Twitter, Gadis Aleppo Curi Perhatian Dunia

Mencuit Lewat Twitter, Gadis Aleppo Curi Perhatian Dunia



Suriah – Bana Alabed, gadis cilik berumur tujuh tahun mengunggah fotonya di Twitter seminggu yang lalu, ia terlihat tengah duduk dengan buku di mejanya, serta boneka di belakangya.

Mencuit Lewat Twitter, Gadis Aleppo Curi Perhatian Dunia

“Selamat sore dari Aleppo,” tulisnya. “Saya membaca untuk melupakan perang.”

Aleppo, kota kedua terbesar di Suriah, terbelah menjadi dua bagian selama konflik panjang negara itu. Kehidupan sehari-hari menjadi perjuangan bagi mereka yang masih tinggal di sana, terjebak dalam peperangan antara pemberontak dan pasukan pemerintah.

Cuitan Bana dalam bahasa Inggris dibantu oleh ibunya yang merupakan seorang guru, membawa angin segar dalam perjuangan yang mereka hadapi di wilayah yang dikuasai pemberontak di Aleppo timur.

Dalam sebuah foto lainnya, Bana tampak terlihat dengan adik-adik lelakinya – Mohamed lima tahun, dan Noor, tiga tahun – dengan tulisan “menggambar bersama adik-adik sebelum pesawat (tempur) datang.”

“Kami membutuhkan ketenangan untuk menggambar.”

Sebuah video pendek menunjukkan ketiganya sedang bersama di kamar tidur. “Kami akan hidup selamanya bersama-sama,” kata Bana, sambil tertawa dan memeluk saudara-saudaranya.

“Bom-bom itu menghantam rumah di depan kami, seperti yang Anda lihat,” bunyi salah satu tulisannya, disertai dengan sebuah foto buram dari bangunan yang hancur.

“Nyawa saya bisa melayang kapan saja dengan bom-bom di sini.”

Pasukan Rusia dan Suriah mengebom wilayah Aleppo timur terus menerus selama berminggu-minggu. Akun Twitter @alabedbana sudah mengumpulkan ribuan pengikut dalam beberapa hari terakhir. Namun, dalam percakapan dengan wartawan, ia mengatakan putrinya benar-benar “ingin dunia mendengar suara kami.”
“Ia bilang, ‘Ibu, mengapa tak seorang pun membantu kita?'”, jelasnya.

Sejumlah cuitannya menantang kenyamanan. Tapi Bana, yang sudah kehilangan temannya dalam pemboman sebuah rumah di dekatnya, sudah begitu banyak terpapar kekejaman perang.

“Ia melihat semuanya di sini,” kata Fatemah. “Ia melihat temannya tewas, dan rumahnya dibom. Ia juga melihat sekolahnya dibom. Jadi hal itu mempengaruhi dirinya.”

Namun meski demikian, Fatemah mengatakan putrinya beruntung. Tapi sudah setahun Bana belum juga pergi ke sekolah, dan ia ingin kembali. Layaknya anak-anak berusia tujuh tahun, dirinya ingin bisa bermain kembali dengan teman-temannya.
(Muspri-sisidunia.com)