Home » News » Seorang Nenek 63 Tahun Ditangkap Karena Pakai Uang Palsu

Seorang Nenek 63 Tahun Ditangkap Karena Pakai Uang Palsu



Bekasi – Seorang nenek bernama Rohati (63) diringkus anggota Polsek Tambun, di Pasar Tambun, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Rabu 5 Oktober 2016 malam. Rohati tertangkap lantaran sedang mengedarkan uang palsu (upal).

Seorang Nenek 63 Tahun Ditangkap Karena Pakai Uang Palsu

Akibatnya, warga Jalan Kemayoran Gempol, Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat tersebut dibawa ke Mapolsek Tambun untuk interogasi. “Rohati terbukti menggunakan upal untuk belanja buah mangga,” ujar Kapolsek Tambun, AKP Boby Kosumawardhana di Bekasi, Kamis (6/10/2016).

Boby menjelaskan, saat pedagang buah bernama Rudi merasa aneh dengan uang pecahan Rp100.000 yang digunakan Rohati untuk membayar mangga. Saat itu, warna uang tersebut sangat cerah dan terlihat berbayang. “Di situ pedagang buah itu curiga,” katanya.

Kemudian Rudi memastikan keaslian uang itu kepada pedagang lain. Saat dilakukan pengecekan, Ternyata uang itu palsu. Para pedagang pun ramai-ramai membawa Rohati ke kantor polisi untuk melaporkan penggunaan upal tersebut.

Dari penangkapan itu, petugas melakukan pendalaman. Saat rumahnya digeledah, penyidik rupanya menemukan barang bukti lainnya berupa uang palsu sebanyak Rp6,4 juta yang terdiri dari Rp100.000 sebanyak 25 lembar dan pecahan Rp50.000 ada 78 lembar.

“Pengakuan awal dia (Rohati) beli uang palsu itu (seharga) Rp200.000 untuk upal Rp700.000. Tapi nyatanya di rumah masih ada uang palsu yang ditemukan. Ini masih diselidiki petugas,” ungkapnya. Upal itu, kata dia, didapatkan Rohati dari seorang perempuan berinisial S.

Kasubag Humas Polres Metro Bekasi, AKP Endang Longla menambahkan, bila diperhatikan secara seksama antara upal itu dengan uang asli hampir sama. Dia meyakini, masyarakat pasti tak menyangka dan bisa terkecoh. “Hampir mirip tidak ada perbedaanya,” tambahnya.

Endang mengatakan, kertas uang palsu terasa lebih kasar dan tinta cetakan tampak terlihat lebih tebal dari uang asli. Akibat perbuatannya, Rohati dijerat Pasal 26 ayat 2 Undang-undang RI nomor 7 Tahun 2011 tentang mata uang dengan ancaman penjara selama 15 tahun.