sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Pengamat Memprediksi Pilgub DKI Bakal Berlangsung 2 Putaran

Pengamat Memprediksi Pilgub DKI Bakal Berlangsung 2 Putaran



Jakarta – Tingkat keterpilihan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terus menurun. Dalam survei terbaru Polmark Indonesia, elektabilitas Gubernur Jakarta itu pada 28 September-4 Oktober 2016 tinggal 31,9 persen. Padahal, dalam survei Polmark pada Juli, elektabilitasnya masih 42,7 persen.

Pengamat Memprediksi Pilgub DKI Bakal Berlangsung 2 Putaran

Di Jakarta, Polmark menyigi 1.100 responden secara acak lewat wawancara tatap muka dengan tingkat kesalahan 2,9 persen. Hasil survei Polmark ini tak jauh dari hasil sigi Lingkaran Survei Indonesia yang dirilis dua hari lalu, yang menunjukkan tingkat keterpilihan Basuki alias Ahok hanya 31,4 persen.

Menurut Direktur Utama Polmark Indonesia Eep Syaifullah Fatah, elektabilitas Ahok anjlok karena pemilih loyalnya beralih ke dua pasangan penantangnya: Anies Baswedan-Sandiaga Uno dan Agus Harimurti-Sylviana Murni. Dari 28,7 persen dalam survei Juli lalu, pemilih mantap Ahok kini tinggal 23,2 persen.

Eep memperkirakan atas hasi survei, pemilihan Gubernur Jakarta berlangsung dua putaran. “Pasangan Anies-Sandiaga berpotensi meraih suara terbanyak,” katanya. Dalam survei ini, elektabilitas Anies-Sandiaga sebesar 23,2 persen, sementara Agus-Sylviana 16,7 persen. Responden yang belum menentukan pilihan sebanyak 28,2 persen.

Anjloknya elektabilitas ini, kata Eep, juga seiring dengan turunnya tingkat kepuasan terhadap kinerja Basuki. Dalam survei Juli, tingkat kepuasan responden masih 69,8 persen. Dalam survei September-Oktober, angka itu turun menjadi 61,8 persen.

Meski begitu, Basuki merupakan calon gubernur yang paling dikenal responden. Popularitasnya mencapai 97,1 persen. Masalahnya, meski terkenal, ia hanya disukai 58,3 persen responden. Bandingkan dengan Anies, yang popularitasnya 82,8 persen tapi disukai 63,1 persen responden.

Eep mengatakan penurunan tingkat kepuasan terjadi karena Ahok dianggap gagal dalam mengatasi banjir, kemacetan, pedagang kaki lima, dan permukiman liar. Secara umum, responden menilai Basuki-Djarot Saiful Hidayat berhasil dalam hal penyediaan transportasi umum yang memadai, pembersihan sungai-sungai di Jakarta, perbaikan fasilitas angkutan dan jalan raya, serta perbaikan kinerja birokrasi.

Dengan angka-angka seperti itu, Eep mengatakan, potensi dua lawan untuk menumbangkan Ahok cukup besar. “Ini seperti mengulang pemilihan gubernur 2012,” kata Eep, merujuk pada kemenangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama. Ketika itu, Eep adalah konsultan pasangan tersebut.

Bendahara Tim Pemenangan Ahok-Djarot, Charles Honoris, mengaku bingung melihat hasil survei banyak lembaga yang berbeda-beda. “Yang satu bilang Ahok menang, yang satu kalah. Bingung saya,” kata Charles.

Untuk mendongkrak elektabilitas Ahok-Djarot, kata Charles, partainya telah menerjunkan semua kader PDI Perjuangan yang bertugas di Dewan Perwakilan Rakyat ke lapangan. “Kami akan menyentuh masyarakat langsung,” kata Charles, yang juga kader PDI Perjuangan.

Cara lainnya adalah memasukkan politikus Partai Demokrat, Ruhut Sitompul, ke tim sukses Ahok-Djarot. “Bisa menambah kekuatan. Pak Ruhut bisa mempengaruhi opini publik,” kata Charles. Selain Ruhut, pelakon Sophia Latjuba didapuk sebagai juru bicara tim.

Masuknya Ruhut tak diikuti personel Teman Ahok. Menurut Basuki, Teman Ahok enggan masuk struktur tim kampanye karena organisasi itu sudah menjadi yayasan. “Mereka mau kerja sendiri,” katanya. Teman Ahok akan bertugas menggalang donasi dalam pelbagai acara.

Ketua DPD Gerindra Jakarta Muhammad Taufik semakin yakin akan pasangan calon yang diusung partainya, Anies Baswedan-Sandiaga Uno, bakal menang. “Kami jadi semangat. Ahok akan kalah karena dirinya sendiri,” kata Taufik. (bens – sisidunia.com)