sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » PDIP Tuding Survey Denny JA Telah Korbankan Profesionalitas

PDIP Tuding Survey Denny JA Telah Korbankan Profesionalitas



Jakarta – Penggunaan lembaga survei oleh pasangan calon yang akan tampil di Pilkada biasanya hanya untuk kepentingan internal calon bersama parpol pengusung serta tim sukses dan tidak untuk dipublikasikan. Penggunaan lembaga survei merupakan bagian dari strategi pemenangan.

PDIP Tuding Survey Denny JA Telah Korbankan Profesionalitas

Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ‎Hasto Kristiyanto akhirnya mengkritisi lembaga Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA, yang terkesan terburu-buru mengeluarkan hasil survei terkait pemilihan gubernur (Pilgub) Jakarta sehingga terkesan berusaha mengarahkan opini publik.

Pernyataan Hasto itu merupakan refleksi atas pengalaman pihaknya atas manuver-manuver politik yang dilakukan Denny JA dan lembaganya di ajang pemilihan kepala daerah (pilkada). Hasto menambahkan dia memiliki sejumlah pengalaman dengan Denny JA.

“Terhadap Denny JA sendiri, kita punya pengalaman di Pemilu 2009 lalu, di mana dia mengatakan elektabilitas PDI-P meningkat begitu pesat karena adanya Baitul Muslimin Indonesia. Padahal saat itu, Baitul Muslimin saja masih baru dan belum banyak hadir di lapangan,” jelas Hasto, Rabu (5/10).

“Artinya dia bersedia mengorbankan profesionalitas demi kepentingan sesaat.”

Bagi Hasto, perilaku demikian akan mengorbankan kredibilitas lembaga survei itu sendiri, sebab hal itu membenarkan bahwa selama ini ada lembaga survei yang memang hanya digunakan untuk mengarahkan opini kemenangan.

“Ada lembaga survei yang digunakan sebagai penyusun bandwagon effect. Bagi kami, hal demikian tidak tepat. Sebab bila begitu, maka politik semata-mata dianggap sebagai kerja elektabilitas, bukan kerja membangun peradaban demi masyarakat Indonesia yang lebih maju,” ungkap Hasto.
(Muspri-sisidunia.com)