Home » Gaya Hidup » Surabaya Memperingati Hari Cerebral Palsy International

Surabaya Memperingati Hari Cerebral Palsy International



Surabaya – Puluhan kursi roda hias milik anak-anak Cerebral Palsy memenuhi jalan raya Darmo, Surabaya dalam suasana Car Free Day (CFD), Minggu (2/9/2016). Ini adalah bagian dari acara Pencanangan Surabaya Kota Ramah Cerebral Palsy, oleh YPCP (Yayasan Peduli Cerebral Palsy) dan Darma wanita Surabaya.

Surabaya Memperingati Hari Cerebral Palsy International

Bersama orang tua dan keluarga, anak-anak Cerebral Palsy menikmati pemandangan pagi. Di atas singgasana kursi roda mereka yang nyaman dan cantik berhias berjalan memutar.
Mulai dari Perpustakaan BI, Taman Bungkul, lalu kembali lagi ke Perpus BI. Diah Anggraeny, Ketua Gubuk Hebat YPCP Surabaya menuturkan acara ini diselenggarakan untuk memperingati hari Cerebral Palsy Dunia.

“Ini sudah jadi kali kedua YPAC melakukan kegiatan serupa, usai tahun 2013 silam. Sederhana, sebenarnya ini menjadi salah satu upaya sosialisasi kepada masyarakat apa sih Cerebral Palsy (CP) itu? sekaligus mengajak anak-anak bersenang-senang. Tak hanya YPAC, kami juga mengundang komunitas pemerhari CP lainnya di Surabaya,” jelasnya usai menemani jalan sehat kepada wartawan.

Selain mengadakan lomba kursi roda hias, YPCP juga mengajak para tamu undangan menikmati beberapa lagu dan puisi, yang dibawakan oleh anak-anak Cerebral Palsy. Yayasan yang bertempat di Jalan Jojoran 1, nomor 15 A ini juga menyediakan layanan kesehatan. Seperti cek tumbuh kembang, kesehatan gigi anak, okupasi, terapi wicara dan fisioterapi.

“Cerebral Palsy ini bukan sebuah penyakit, tapi kondisi dimana anak-anak ini mengalami cedera otak sejak lahir. Dan dengan stimulasi, fisioterapi, bisa sebagai upaya untuk mengontrol masa otot anak-anak PC. Ada cara-caranya,” imbuhnya.

Sebagai informasi, Cerebral Palsy adalah gangguan gerakan, otot, atau postur yang disebabkan oleh cedera atau perkembangan abnormal di otak, yang sering terjadi sebelum kelahiran. Tanda dan gejalanya muncul selama masa bayi atau prasekolah. Chusnur Ismiati, Ketua Darma wanita Surabaya sekaligus Ketua Perwosi Surabaya dan Pelindung YPCP menuturkan sebenarnya kondisi anak CP bisa dideteksi sejak dini.

“Kalau diketahui sejak dia masih kecil, mungkin penangannya juga lebih cepat. Misalnya saat anak umur sekian, sebenarnya sudah waktunya berjalan atau bicara tapi kok belum. Itu artinya orangtua harus segera mencari, ada apa ini? kalau tidak ditangani keterlambatan itu, anak bisa CP, lebih lama lagi bisa-bisa masuk Anak Berkebutuhan Khusus,” jelasnya kepada wartawan.
(Muspri-sisidunia.com)