Home » Travel & Kuliner » Pejuang Ini Membangun 61 Jembatan Gantung Di Daerah Terpencil Indonesia

Pejuang Ini Membangun 61 Jembatan Gantung Di Daerah Terpencil Indonesia



Jakarta – Seringkali kita mendengar atau bahkan membaca berita-berita mengenai susahnya anak-anak yang berada di daerah-daerah terpencil Indonesia untuk pergi ke sekolahnya dikarenakan jarak yang harus mereka tempuh dari rumah ke sekolah sangat jauh.

Pejuang Ini Membangun 61 Jembatan Gantung Di Daerah Terpencil Indonesia

Bahkan jarak sedikit dari mereka yang juga harus menyeberangi sungai yang alirannya arusnya sangat deras dimana sewaktu-waktu mereka pun dapat terseret arus sungai yang mungkin bisa membahayakan nyawa mereka sendiri. Namun mereka tidak terlalu mengkhawatirkan hal tersebut karena keinginan mereka untuk mendapatkan pendidikan disekolah lebih besar bila dibandingkan dengan ketakutan mereka dengan derasnya arus sungai.

Melihat keadaan itu, yang mampu kita lakukan mungkin hanya sebatas mendoakan mereka dari jauh agar mereka diberikan keselamatan dan kekuatan untuk berjuang meraih pendidikan yang layak untuk mereka. Mungkin juga dalam doa kita terselip sebuah harapan kepada pemerintah untuk membantu anak-anak tersebut dengan membuat akses jalan yang mudah untuk mereka lalui.

Namun itu semua tidak berlaku bagi Toni Ruttiman, seorang relawan dari Swiss yang sudah kurang lebih selama tiga tahun mengajak warga di daerah-daerah terpencil untuk bergotong royong membangun jembatan karena akses jalan yang terputus. Keinginannya sederhana, ia hanya ingin agar anak-anak tersebut bisa berangkat sekolah dengan aman.

Ironisnya, lelaki yang sungguh peduli pada mereka tersebut justru bukanlah dari kalangan negeri sendiri. Ia adalah orang asing, orang bule yang tak lahir di tanah Indonesia. Ia tak hanya merasa prihatin namun juga benar-benar tergerak dan mengambil langkah nyata untuk membantu mereka.

Kisah inspiratif tentang Toni tersebut dituliskan oleh seorang sosiolog bernama Imam B Prasodjo di akun Facebooknya. Berikut merupakan postingan Imam tentang kisah Toni :

“Saat saya menulis catatan ini, saya ingin sekali tak mengeluh. Saya tak ingin mengeluh pada negeri ini karena saya cinta pada bangsa ini. Namun, kesabaran seringkali seperti hampir hilang bila melihat praktek di lapangan begitu banyak rintangan yang membuat hati ini kesal setengah mati. Padahal apa yang kita lakukan semata-mata untuk perbaikan hidup rakyat marginal sebagaimana dicita-citakan para pendiri negeri ini. Coba perhatikan ceritera berikut ini. Ini terkait dengan nasib seorang relawan asal Swiss bernama Toni Ruttiman yang diam diam sudah tiga tahun keluar masuk kampung wilayah terlencil di Indonesia, mengajak warga bergotong royong membangun jembatan gantung sendiri karena akses jalan terputus. Kisah kepedulian Toni pernah saya ceriterakan pada Facebook saya sebelumnya. Toni datang ke negeri kita karena ia melihat begitu banyak anak-anak di negeri ini bergelantungan harus pergi sekolah menyebrangi sungai dengan jembatan yang rusak”, tulis Imam.

Dalam catatannya itu, Imam juga menyertakan foto Toni dan sejumlah warga membangun jembatan secara swadaya dan gotong royong. Awal mula kepedulian Toni adalah ketika ia melihat sebuah foto tentang anak-anak Indonesia yang harus menantang nyawa untuk berangkat sekolah.

Melihat kondisi tersebut, Toni pun berinisiatif untuk mengumpulkan bahan-bahan jembatan gantung dari negerinya, Swiss. Toni juga mengupayakan bantuan berupa pipa dari perusahaan ternama yang pemiliknya ia kenal baik agar bersedia mengirim bantuan pipa tiang jembatan dari Argentina ke Indonesia.

Toni juga merekrut beberapa tenaga kerja dari Indonesia yang setia membantunya mengerjakan misi tersebut. Kini ia telah berhasil memasang 61 jembatan gantung di berbagai wilayah Indonesia. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Banten, Jabar, Jateng, Jatim, dan bahkan hingga Sulawesi, Maluku Utara dan NTT. (Muspri-sisidunia.com)