sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Pedagang Masker Raup Untung Saat Penggusuran Bukit Duri

Pedagang Masker Raup Untung Saat Penggusuran Bukit Duri



Jakarta – Asap debu dari reruntuhan bangunan liar membuat kawasan permukiman kumuh yang berada di jalan sempit di bantaran kali Kelurahan Bukit Duri berkabut.

Pedagang Masker Raup Untung Saat Penggusuran Bukit Duri

Belasan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) serta aparat kepolisian yang berjaga di dekat alat berat yang meroboh dinding bangunan sontak menyeruak menjauh dari reruntuhan sambil mengipas-ngipas kepulan debu di sekitarnya.

Tak lama berselang, belasan petugas itu menyerbu Marto, 37. Mereka memburu masker buff serta syal yang dijajakan warga Jatinegara tersebut.

“Mari Pak, maskernya,” kata Marto setengah berteriak.

Dengan santai, Marto berkeliling di antara kepulan debu dan lalu lalang warga yang kocar-kacir mengangkuti harta benda mereka lantaran sempat menolak penertiban.

Dalam sekejap, barang dagangannya laris diburu.

Tidak hanya oleh petugas yang menjalankan penertiban, tetapi juga dibeli para wartawan peliput serta warga yang sengaja datang untuk menyaksikan penertiban.

“Alhamdulillah laku. Kalau berjualan tetap di satu tempat jarang habis. Lebih baik keliling ke jalan-jalan,” kata perantau asal Klaten yang mengontrak bersama tiga orang rekan sesama penjual masker.

Jika semua dagangannya laris, sehari Marto mendapat untung bersih sebesar Rp300 ribu.

Saat sepi, ia hanya bisa mengantongi untung Rp50 ribu.

Penghasilannya tersebut ia tabung sebagian untuk dikirim ke kampung halamannya untuk istri dan seorang buah hatinya.

Meski senang barang jualannya cepat habis, Marto mengaku cukup berduka dengan penggusuran yang terjadi.

Namun, sebagai warga, ia menyadari jika tinggal di tempat yang salah, cepat atau lambat akan menghadapi konsekuensinya, yaitu ditertibkan petugas.

“Sedih sih lihat sesama warga kecil digusur. Tapi ya, kalau memang menurut pemerintah salah, ya mau gimana lagi. Kita harus pindah daripada merugikan banyak orang, bikin banjir,” kata Marto. (bens – sisidunia.com)