sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » Travel & Kuliner » Asal Mula Makanan Tradisional Tahu Gejrot

Asal Mula Makanan Tradisional Tahu Gejrot



Cirebon – Tahu Gejrot merupakan salah satu kuliner asli Cirebon, Jawa Barat, yang banyak disukai masyarakat dari berbagai kalangan. Selain karena rasanya enak dan memiliki citarasa yang unik, harganya pun murah. Tak hanya itu, kita sendiri pun dapat membuatnya di rumah dengan bahan-bahan yang sederhana.

Asal Mula Makanan Tradisional Tahu Gejrot

Bahan utama tahu gejrot adalah tahu gembos yang dihidangkan bersama kuah kecap, cabai rawit, bawang merah, dan gula merah. Kekhasan dari makanan tradisional ini tidak hanya terletak pada bahan dan pelengkap sajiannya, wadah dan alat santapnya alami menggunakan biting (tusuk kecil terbuat dari bambu atau kayu). Namun, tidak banyak yang tahu sejarah kemunculan tahu gejrot yang biasa dijual di pikulan itu.

Budayawan Cirebon Nurdin M Noer menyampaikan, berdasarkan hasil pengumpulan data penulisan, terungkap bahwa dapur-dapur produksi (pabrik tahu gejrot) berada di Desa Jatiseeng, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon.

Dia menuturkan, salah satu keterampilan boga ini berlangsung sejak zaman prakemerdekaan. Bahkan, hingga kini dapur-dapur pembuatan tahu gejrot masih tetap lestari dan berkembang secara tradisional.

“Setidaknya, di Jatiseeng terdapat enam pabrik tahu gejrot yang tetap eksis hanya memproduksi tahu gejrot, tanpa diversifikasi produk lain dari bahan baku sejenis,” ucap dia, Jumat, 23 September 2016.

“Kalau kata Dulhamid, salah seorang jawara tahu gejrot,dahulu, pemilik pabrik tahu gejrot adalah orang-orang keturunan China. Maklum situasi keamanan dan ekonomi sebelum tahun 1950 masih morat- marit, mengharuskan penduduk pribumi bekerja apa saja, termasuk beburuh membuat tahu gejrot. Bahkan banyak pula yang turut memasarkannya dengan keliling kampung,” tutur dia.

“Ketika situasi ekonomi dan politik mulai membaik, orang-orang kaya yang bermodal tebal mulai meninggalkan usaha tahu gejrot dan memilih membuka usaha lain di kota-kota yang menjanjikan keuntungan lebih besar. Di tengah situasi itu, penduduk pribumi mulai mengambil alih produksi tahu gejrot”, tambahnya. (Muspri-sisidunia.com)