Home » News » Menarik ! Inilah 3 Fakta Terkuak Dalam Sidang Jessica Episode 22

Menarik ! Inilah 3 Fakta Terkuak Dalam Sidang Jessica Episode 22



Jakarta – Kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah menarik perhatian masyarakat. Sidang perkara yang akrab dengan sebutan kasus ‘kopi sianida’ ini bahkan sudah berlangsung hingga 22 kali.

Menarik ! Inilah 3 Fakta Terkuak Dalam Sidang Jessica Episode 22

Didalam setiap persidangannya selalu menyajikan fakta-fakta yang menarik yang dapat membuat publik semakin penasaran. Apalagi ketika persidangan disuguhkan dengan ‘drama’ perdebatan sengit antara kubu jaksa penuntut umum (JPU) dan pihak terdakwa Jessica.

Pihak JPU sangat meyakini bahwa Jessica adalah pelaku tunggal yang menghabisi nyawa Mirna menggunakan racun sianida. Hal itu berdasarkan sejumlah bukti sekaligus diperkuat dengan keterangan saksi-saksi fakta dan ahli yang telah dihadirkan di persidangan.

Sedangan dari kubu Jessica juga meyakini bahwa Jessica tidak bersalah dengan diperkuat dengan lemahnya bukti-bukti dan keterangan para saksi yang dihadirkan oleh pihak JPU. Oleh karena itu, inilah beberapa hal yang menarik perhatian masyarakat tentang persidangan kopi sianida tersebut :

1. Wajar Bila Jessica Taruh Tas Di Meja
Saksi pertama yang diturunkan oleh kubu Jessica pada persidangan yang ke 22 adalah seorang ahli psikologi dari Universitas Indonesia (UI) Dewi Taviana Walida Haroen. Analisis awal yang dilakukan Dewi adalah mengenai perilaku Jessica yang meletakkan tas kertas atau paper bag di atas meja saat berada di Kafe Olivier, Grand Indonesia, 6 Januari 2016 lalu.

Bagi beberapa ahli yang dihadirkan JPU, Jessica dinilai berperilaku seperti menyembunyikan sesuatu atau membentengi diri. Berbeda dengan Dewi yang justru menganggap perilaku Jessica itu wajar. Sebab kebiasaan seseorang tidak bisa disamaratakan ‎dengan kebiasaan orang lain secara umum.

Dewi menjelaskan, beberapa orang memiliki kebiasaan meletakkan tas atau barangnya di atas meja, sekali pun ada tempat lain. Perilaku itu didasari sejumlah alasan, antara lain, agar bisa dilihat orang lain alias pamer, takut hilang atau diambil orang, dan sebagainya.

Karena itu, Dewi mengkritisi sejumlah ahli psikologi yang telah memeriksa Jessica, salah satunya Antonia Ratih Andjayani. ‎Psikolog klinis berusia 34 tahun itu berdasar pada perilaku lazim orang yang bertamu di restoran, umumnya akan meletakkan barang bawaannya di samping tubuhnya jika masih ada ruang kosong. Kecuali ada hal yang ingin dikerjakan di atas meja.

2. Para Ahli Psikologi Jadi Perang Kredibilitas
Dewi yang merupakan ahli psikologi dari kubu Jessica memang beberapa kali mengkritisi keterangan psikolog dari kubu JPU, Antonia Ratih Andjayani. ‎Ahli psikologi klinis yang saat itu juga memeriksa kejiwaan Jessica dan dituangkan ke dalam berita acara pemeriksaan (BAP) penyidik Polda Metro Jaya dianggap inkonsisten.

Ratih dianggap tidak konsisten dalam membuat kesimpulan dari pemeriksaan kejiwaan Jessica. Dalam kesimpulannya, Ratih menyatakan bahwa Jessica sehat, waras, dan cerdas. Namun Ratih juga menyatakan bahwa Jessica memiliki gangguan mental.

3. Komisi Yudisial (KY) Mendapat Pengaduan
Sekelompok orang yang mengatasnamakan Aliansi Advokat Muda Indonesia (AAMI) dan Persatuan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) mendatangi ‎Kantor Komisi Yudisial (KY), Senin siang kemarin. Mereka melaporkan tiga hakim yang menangani kasus Jessica di PN Jakarta Pusat.

Otto Hasibuan selaku koordinator tim pengacara Jessica merasa kaget dan terganggu atas tindakan segelintir orang itu. Ulah kelompok tersebut justru terkesan membenturkan kubu Jessica dengan majelis hakim.

“Majelis hakim sangat arif dan bijaksana. Kami sangat bangga kepada majelis. Kami tidak setuju kalau ada pihak lain intervensi pengadilan,” ucap Otto dalam persidangan.
(Muspri-sisidunia.com)