sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Ibadah Haji Menggunakan Uang Hasil Korupsi

Ibadah Haji Menggunakan Uang Hasil Korupsi



Jakarta – Bupati Banyuasin, Yan Anton Ferdian (YAF) kembali diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dalam kasus dugaan suap proses perencanaan anggaran proyek pengadaan barang dan jasa di Dinas Pendidikan dan dinas-dinas lainnya di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Ibadah Haji Menggunakan Uang Hasil Korupsi

“Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai tersangka,” ujar Pelaksana Harian Kepala Biro Humas KPK, Yuyuk Andriati, di Gedung KPK, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (20/9/2016).

Bukan hanya Yan Anton saja, penyidik KPK juga memeriksa tersangka-tersangka lainnya, yakni Rustami yang merupakan Kasubag Rumah Tangga Kabupaten Banyuasin; Kasi Pembangunan Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Bidang Program dan Pembangunan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin, Sutaryo; serta Dirut CV Putra Pratama, Zulfikar Muharami.

“Penyidik terus mendalami peran para tersangka,” jelas Yuyuk.

Seperti diketahui, dalam operasi tangkap tangan Yan Anton ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Dalam kasus ini, Yan diduga menjanjikan sebuah proyek di Dinas Pendidikan Banyuasin kepada pengusaha berinisial Zulfikar, yang merupakan direktur CV PP.

“Sebagai imbalannya, Bupati Banyuasin ini meminta Rp1 miliar kepada ZM,” kata Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan, dalam jumpa pers beberapa waktu lalu.

Saat menjalankan aksinya, Yan Anton dibantu oleh beberapa bawahannya. Pertama, Yan menghubungi Rustami yang merupakan Kasubag Rumah Tangga di Pemda Banyuasin. Rustami lalu menghubungi Umar Usman, Kepala Dinas Pendidikan.

Umar dibantu oleh anak buahnya, Sutaryo, lalu menghubungi seorang pengepul bernama Kirman. Kemudian Kirman menghubungi Zulfikar untuk menawarkan proyek di Dinas Pendidikan dengan syarat harus menyetor Rp1 miliar.

Dalam operasi tangkap tangan kemarin, KPK mengamankan uang sebesar Rp229,8 juta dan 11.200 dolar Amerika Serikat dari Yan Anton.

Dari Sutaryo, KPK menyita Rp50 juta yang diduga merupakan bonus dari Yan Anton. Dari tangan Kirman, KPK menyita bukti setoran biaya naik haji ke sebuah biro sebesar Rp531.600.000 untuk dua orang atas nama Yan Anton dan istri. Diduga Yan Anton menggunakan uang tersebut untuk menunaikan ibadah haji. (bens – sisidunia.com)