sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Tolakan Risma Terhadap Tawaran Untuk Maju Ke Pilkada DKI Jakarta

Tolakan Risma Terhadap Tawaran Untuk Maju Ke Pilkada DKI Jakarta



Jakarta – Pengumuman jadwal pendaftaran calon gubernur dan wakil gubernur DKI yang dibuka KPU DKI Jakarta secara resmi pada 21 sampai 23 September 2016. Nama-nama bakal calon gubernur yang siap menantang Ahok sang petahana sudah bermunculan, salah satunya Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Tolakan Risma Terhadap Tawaran Untuk Maju Ke Pilkada DKI Jakarta

Namun, Wali Kota yang akrab disapa Risma ini masih tetap memegang prinsipnya untuk tidak berambisi menjadi seorang bakal calon pemimpin di DKI Jakarta. Bahkan Risma mengaku siap menolak tawaran Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk maju di Pilkada DKI.

“Kalau misalnya saya punya ambisi dan saya ngomong mampu menjadi pemimpin daerah ini, terus tiba-tiba Gusti Allah memberikan cobaan, yang sombong itu aku, yang takabur itu aku, dan yang kena cobaan itu wargaku, itu kan tidak adil untuk mereka,” tutur Risma di Rumah Dinasnya, Minggu (18/9/2016).

Risma mengatakan, bahwa dirinya juga tidak pernah sesekali meminta warganya untuk memilihnya menjadi seorang Wali Kota Surabaya. Dia menganggap bahwa hal tersebut merupakan sebuah pantangan.

“Bagi saya, berat beban itu. Jadi aku tidak ada di tataran berkeinginan, berpikir, atau kepengin untuk menjadi seorang pemimpin, itu tidak boleh. Tetapi Allah berkehendak lain, dan tidak ada satupun manusia yang bisa menolak takdir tuhan,” kata Risma.

Saat ditanya jika Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri menginginkan Risma untuk maju di Pilkada DKI, Risma menjawab bahwa dirinya sudah menjelaskan kepada Megawati. “Seperti dulu, saya tidak mau menjadi menteri, Bu Mega juga sepakat dengan itu,” ucap Risma.

Risma menyatakan akan mencoba menolak tawaran Megawati hingga titik darah penghabisan, karena sejak awal sudah berjanji kepada warga Surabaya untuk tetap menjadi Wali Kota Surabaya.

“Kalau toh itu terjadi, pasti Bu Mega juga akan berpikir karena itu pasti berat dan dua-duanya juga berat, saya pun pasti berat. Saya meninggalkan Surabaya berat, warga Surabaya juga berat, bu Mega juga berat. Itu pasti, tapi tidak ada yang bisa mengatur jika Allah berkehendak,” kata Risma.

“Nanti tetap akan saya coba (menolak), karena manusia itu harus terus berusaha sampai di titik darah penghabisan,” ujar Risma. (bens – sisidunia.com)