Home » News » Madura Menjadi Rumah Baru Bagi Mahasiswa dan Profesor Asal Ceko

Madura Menjadi Rumah Baru Bagi Mahasiswa dan Profesor Asal Ceko



Madura – Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menjadi rumah bagi 13 mahasiswa dan tiga professor dari Universitas Palacky Olomouc, Republik Ceko mulai 6 September sampai 5 Oktober 2016 mendatang.

Madura Menjadi Rumah Baru Bagi Mahasiswa dan Profesor Asal Ceko

Kehadiran mereka melalui program internship yang bertajuk pendidikan dan warisan budaya lokal ditindaklanjuti dengan berkunjung ke Sumenep, sebagai pusat kebudayaan Madura.

Pondok Al-Amien di Prenduan yang memiliki sejarah panjang dan peran sentral dalam membangun pendidikan di Madura menjadi jujugan.

Pesantren yang memiliki keunikan tersebut menjadi magnet bagi profesor dan mahasiswa Ceko. Mereka terkesan karena santri di sini tak sekadar belajar agama dengan tekun namun juga memiliki kecakapan bidang teknologi dan multimedia. Tak hanya itu, bahkan memiliki ekstrakurikuler robotik dan mampu bertengger sebagai juara.

Mereka membaur dengan para santri dalam proses pembelajaran sehingga bisa merasakan atmosfer proses pembelajaran dalam kelas pesantren. Mereka juga dibawa mengelilingi lingkungan pesantren dan berdialog dengan santri secara langsung, sehingga kesan tentang Islam yang seram dimata mereka berubah menjadi damai dan tenang.

Rombongan bergeser ke desa pasir di permukiman nelayan tepi pantai Sumenep. Mereka kagum dengan kekayaan dan keragaman budaya Madura saat menyaksikan sendiri deretan rumah yang memiliki tempat santai beralaskan pasir.

Berkesempatan melihat warga bersantai di atas pasir di rumah mereka. Bahkan, mereka juga sempat membaur bersama warga dan merasakan sensasi duduk dan bersantai di atas lantai pasir pada sore hari.

Rombongan mendapat kejutan dari seniman dan musisi Madura lewat pentas seni dan budaya saat berkunjung ke café Ady Poday. Dibuka dengan sajian musik pentatonis nan rancak oleh grup La Ngetnik pimpinan Rifan Khoridi. Pesta budaya Sumenep semakin meriah.

Beberapa penyair Madura, termasuk budayawan Syaf Anton ikut hadir dan membacakan puisi Madura untuk tamu dari Ceko. Seorang musisi turun panggung dan mengajak para tamu menari bersama diringi musik etnik yang mengalun rancak. Malam yang sulit dilupakan.

Esok harinya mereka menyadi saksi keeksotisan matahari terbit di pantai Lombang yang berpasir putih. Harap maklum, Republik Ceko tidak memiliki laut. Meski mereka bisa menikmati laut di Yunani ataupun Itali, namun tak ada yang mampu menandingi keindahan pantai di Indonesia.

Mereka menuliskan inskripsi di pasir, i love Indonesia. Pernyataan tulus yang patut membuat bangga.

Program ini masih tahapan awal dan akan terus berlanjut beberapa minggu ke depan untuk terus mengeksplorasi keunikan pendidikan dan budaya di Madura dan keragaman budaya dan alam Indonesia. (bens – sisidunia.com)