Home » News » Hati – Hati Dengan Kampanye SARA Jelantg Pilkada

Hati – Hati Dengan Kampanye SARA Jelantg Pilkada



Jakarta – Penggunaan isu agama dalam pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah menjadi masalah untuk perkembangan demokrasi di Indonesia. Menurut Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti, isu SARA seharusnya tak digunakan untuk mempengaruhi pilihan masyarakat dalam pemilihan umum.

Hati - Hati Dengan Kampanye SARA Jelantg Pilkada

Ray beranggapan, pemilih berhak menentukan pilihannya dalam Pemilu berdasarkan preferensi apapun. Namun, pemilih tak boleh turut mempengaruhi pilihan orang lain menggunakan isu-isu krusial seperti agama.

“Agak bermasalah dalam demokrasi jika Anda mengkampanyekan orang untuk tidak dipilih karena preferensi agamanya. Bahwa Anda memilih karena latar belakang agama, itu tidak apa-apa. Itu dua hal yang berbeda,” kata Ray di kawasan Sarinah, Jakarta, Kamis (15/9/2016).

Keberadaan isu SARA untuk menggiring opini publik menjadi perhatian jelang berlangsungnya Pilkada 2017. Menurut pandangan Ray, isu SARA semakin marak dijadikan senjata untuk mempengaruhi pemilih belakangan ini.

Penggunaan isu SARA memuncak pasca Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama memastikan diri maju menjadi bakal calon petahana di Pilkada DKI Jakarta. Menurut Ketua Lembaga Kajian dan Pemberdayaan Sumberdaya Manusia PBNU Rumadi, perkembangan isu SARA jelang Pilkada DKI Jakarta tahun depan lebih masif dibanding masa Pilkada sebelumnya.