Home » News » Kemendikbud Nyatakan Kemiskinan Adalah Kendala Yang Harus Diatasi Untuk Pemberantasan Buta Aksara Di Indonesia

Kemendikbud Nyatakan Kemiskinan Adalah Kendala Yang Harus Diatasi Untuk Pemberantasan Buta Aksara Di Indonesia



Jakarta – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan faktor kemiskinan masih menjadi kendala utama dalam pemberantasan tuna aksara di Indonesia. Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kemdikbud, Harris Iskandar, tingkat kemiskinan berkorelasi dengan jumlah tuna aksara. Semakin tinggi tingkat kemiskinan, semakin rendah kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan.

Kemendikbud Nyatakan Kemiskinan Adalah Kendala Yang Harus Diatasi Untuk Pemberantasan Buta Aksara Di Indonesia

“Semakin tinggi tingkat kemiskinan pada suatu daerah memiliki kecenderungan jumlah masyarakat buta hurufnya semakin tinggi karena motivasi untuk belajar rendah,” ujar Harris di Gedung Kemdikbud, Jakarta, Jumat (9/9/2016).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2014, Papua dan Nusa Tenggara Barat adalah provinsi dengan tingkat kemiskinan paling tinggi di Indonesia.

Papua menjadi provinsi dengan persentase jumlah buta aksara terbanyak di Indonesia berdasarkan jumlah penduduknya, yakni 28 persen dari total penduduk Papua. Sementara Jawa Timur merupakan provinsi dengan jumlah buta aksara terbesar di Indonesia. Dari total 5,9 juta jumlah buta aksara di Indonesia, sekitar 1,4 juta tuna aksara ada di Jawa Timur.

Motivasi belajar yang minim karena usia lanjut, kata Harris, turut jadi kendala dalam penuntasan buta aksara di Indonesia. Terbukti, kata dia, dari sekitar 5,7 juta orang buta aksara, dua pertiganya berusia 45 tahun ke atas.

“Mereka yang berusia lanjut (dan buta aksara) ini yang umumnya sudah enggan untuk belajar baca, tulis, dan berhitung (calistung). Sulit untuk mendorong mereka (belajar),” kata Harris.
(Legolas – sisidunia.com)