sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » Travel & Kuliner » Kenjeran Park Masih Menjadi Ikon Wisata di Surabaya

Kenjeran Park Masih Menjadi Ikon Wisata di Surabaya



Surabaya – Tak bisa terlpaskan dari kawasan Kenjeran begitu menyebut nama Kota Surabaya. Traveler yang liburan ke Surabaya, jangan sampai lupa mampir ke Kenjeran Park.

Kenjeran Park Masih Menjadi Ikon Wisata di Surabaya

Tak hanya memiliki destinasi wisata yang unik dan menarik yaitu Kenjeran Park. Berbeda dengan Kenjeran lama yang hanya ada pantai saja, di Kenjeran Park terdapat banyak bangunan yang unik salah satunya seperti replika Temple of Heaven di Beijing, China.

Kenjeran Park menawarkan berbagai tempat unik yang bisa kita kunjungi. Mulai dari waterboom, danberbagai bangunan unik lainnya. Salah satunya adalah patung budha berwajah empat, yang terletak diujung pantai. Ada patung Dewi Kuan In dengan para dewa yang disangga oleh dua naga raksasa yang menjulang indah bila diliat dari pinggir pantai kenjeran.

Tak hanya bermain, kita bisa kuliner sambil menikmati sunset di tepi pantai. Ada lontong balap, lontong kupang, sate kerang, dan berbagai macam seafood juga ada. Banyak pilihan buat pengunjung bila ingin makan di sana. Jajanan sekadar jagung bakar dan berbagai minuman ringan juga ada.
Saaat malam, dari ujung pantai kita bisa melihat gemerapnya Jembatan Suramadu. Ya, gemerlap indahnya Suramadu bisa dinikmati juga dari ujung pantai ini. Bila malam minggu, akan ada pertunjukan air mancur yang menari dengan lampu kerlap-kerlip yang indah. Hanya malam minggu dan hanya diputar jam 8 malam, jadi tidak heran menjelang jam tersebut sudah banyak orang memenuhi jembatan.

Lokasi ini bisa diakses dari luar untuk langsung ke jembatan, tapi bagi saya yang sudah terlanjur masuk ke pantai dan sudah berada di ujung, saya putuskan untuk berjalan kaki saja untuk mendekati. Di sana, saya melewati pemukiman orang Madura, tenang saja, warga di sana baik.

Saya hanya perlu bertaya jalan untuk menuju jalan raya, yang saya maksud adalah jalan menuju jembatan itu dan mereka dengan senang hati menunjukkan jalannya kepada saya. Memang melewati kampung dan jalan-jalan kecil, tidak jarang dilihat warga sekitar, sering-sering mengangguk dan tebar senyum saja.

Tidak lama kemudian saya sampai di jalan itu. Hmm, tidak begitu jauh untuk saya yang sudah terbiasa berjalan kaki, mungkin sekitar 1-2km berjalan kaki untuk sampai di Jembatan itu, percayalah, sangat ramai malam itu karena pas malam minggu. Dari kejauhan pun sudah terlihat kerlap-kerlip lampu dan air yang menyala. (bens – sisidunia.com)