sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Dinsos Indramayu Tangani Gadis ABG Yang Dipekerjakan Sebagai Terapis di Bali

Dinsos Indramayu Tangani Gadis ABG Yang Dipekerjakan Sebagai Terapis di Bali



Indramayu Р Dinas Sosial Ketenagakerjaan  dan Transmigrasi Kabupaten Indramayu telah menjemput enam ABG yang jadi korban tracking di Bali. Keenam ABG itu adalah Ra (18), YR (18), In (18), DS (16), De (18), dan AN (17) mereka adalah warka Kabupaten Indramayu.

Dinsos Indramayu Tangani Gadis ABG Yang Dipekerjakan Sebagai Terapis di Bali

Zulkarnaen selaku Kepala Bidang Sosial di Dinas Sosial Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Kabupaten Indramayu mengatakan bahwa, para korban berusia dibawah 16 tahun sampai 18 tahun. Mereka dipekerjakan sebagai terapis di salah satu hotel besar di Bali sejak Januari 2016.

Keberadaan mereka diketahui pertama kali saat petugas penegak hukum di Bali melakukan operasi penyakit masyarakat. Setelah terjaring razia, para korban kemudian diantarkan petugas ke Bandung setelah diketahui  dari Indramayu.

Dugaan Zulkarnaen, mereka jadi korban perdagangan orang atau trafficking karena para korban masih berusia di bawah umur. Usia para korban belum seharusnya dipekerjakan, terlebih menjadi seorang terapis atau tukang pijat dewasa seperti itu.

‚ÄúSetelah ditelusuri, penyalurnya juga sudah terstruktur dengan rapi. Saya tidak tahu apakah ini merupakan sindikat atau bukan. Saya berencana akan melaporkan pihak penyalur tersebut kepada lembaga penegak hukum” kata Zulkarnaen, Sabtu (3/9/2016).

Keterlibatan orang tua juga menjadi permasalahan lainnya. Hasil dari wawancara para orangtua, ia mengatakan beberapa di antaranya mengaku memaksa anak perempuannya bekerja ke Bali melalui.

‚ÄúAda juga orangtua yang tidak tahu anaknya ternyata menjadi terapis di Bali, ada juga yang sudah tahu bahkan memaksa anaknya untuk bekerja di sana. Faktor utamanya adalah kebutuhan ekonomi,” ungkapnya. (bens – sisidunia.com)