Home » Hiburan » Marshanda Belajar Ikhlas Menerima Masalah Yang Pernah Dialaminya

Marshanda Belajar Ikhlas Menerima Masalah Yang Pernah Dialaminya



Jakarta – Marshanda bukan satu-satunya publik figur yang menerima cibiran bahkan hujatan dari netizen, karena sejumlah permasalahan. Mulai dari aksi video ‘gilanya’, konflik rumah tangga, dan terbaru adalah sang ayah yang menjadi pengemis. Namun bukan Marshanda namanya, bila dia tak berani ambil sikap. Tanpa malu dan ragu, wanita yang akrab disapa Chaca itu mengungkapkan aib keluarganya, dari sudut pandang lain.

Marshanda Belajar Ikhlas Menerima Masalah Yang Pernah Dialaminya

“Kalo kata sebagian orang kekurangan itu ‘aib’, dan aib harus ditutup rapat-rapat. Bukankah kita diajarkan untuk menerima kekurangan dan malah belajar darinya? Menjadi orang yang lebih baik karena pernah salah, mencintai lebih besar dan sungguh-sungguh karena pernah kecewa dan terluka?,” tulis Chaca seperti dikutip dari akun Tumblrnya, Selasa 28 Maret 2016.

Ya, Chaca melihat musibah dari sudut pandang lain. Dia menilai kalau musibah–luka dan kesalahan– diterima dengan ikhlas, maka akan menjadi pelajaran paling berharga.

“(Ikhlas) Ngga ada sekolahnya. Mau dibayar berapa milyarpun, nggak ada yang jual.”

“Papaku orang baik. Dia ngga menipu, ngga meremehkan orang lain, jadi kalo berita seperti ini tentang papa keluar di media saya ngga ngerasa kaget, miris, ataupun malu,” tulis dia.

“(Ayah menjadi pengemis) menurut mereka (masyarakat) aib, aku nggak apa-apa. Aku percaya ada bagian setitik apapun yang jernih. Buat aku ini nggak memalukan.”

Dengan ditemukannya sang ayah dalam kondisi memprihatinkan, kekasih Egi John itu justru berusaha berpikiran positif. Chaca menilai kalau setiap orang, termasuk dia dan keluarganya punya kelebihan dan kekurangan.

“Walaupun kita punya masa lalu yang “kurang baik” di mata masyarakat (bahkan sebagian besar orang menyebutnya “aib yang harus ditutup-tutupi), bukan berarti kita tidak pantas disayangi, diterima, dipahami, dicintai dan dihormati sebagai seorang individu yang masih bernafas.”

“Jangan hanya karena “aturan masyarakat” yang nggak tertulis mengenai apa yang “wow” dan apa yang patut dianggap remeh, kita jadi hidup nggak pakai hati dan nggak mengenal cinta lagi. Sebersih atau sekotor apapun badan orang itu di bumi saat ini, setebel atau setipis apapun dompet dan jumlah kartu kreditnya hari ini.. Kita semua sama. Kita semua berhak dihormati, diterima, dan disayangi.”
(Legolas – sisidunia.com)