sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » Travel & Kuliner » Palembang Memiliki Telur Yang Hanya Disediakan Pada 17 Agustus Saja

Palembang Memiliki Telur Yang Hanya Disediakan Pada 17 Agustus Saja



Palembang – Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan ke-71 RI di Palembang tidak hanya dimeriahkan dengan banyaknya bendera Merah Putih di setiap sudut kota dan aneka permainan tradisional. Warga Kota Palembang itu juga tak ketinggalan terkait mengenai makanan khas 17 Agustus.

Palembang Memiliki Telur Yang Hanya Disediakan Pada 17 Agustus Saja

Makanan khas yang sangat identik dengan HUT Kemerdekaan RI tersebut yakni aneka telur yang dibuat dengan bentuk dan rasa yang unik. Para pedagang membuat 3 jenis telur khas Palembang, yaitu Telok Abang (telur merah), Telok Ukan Bebek, Telok Ukan Ayam dan Telok Pindang. Setiap tahun, Yani (58), pedagang telok abang selalu membuat kudapan khas Palembang ini.

“Sudah buatnya dari awal Agustus kemarin, kemungkinan sampai 20 Agustus mendatang. Dibuatnya tiap pagi, baru jualannya siang menjelang malam di pinggir jalan,” kata Yani, warga Jalan KA Gahari, Kelurahan 13 Ulu Palembang.

Yani ini membuat tiga jenis telur tersebut dengan cara yang cukup berbeda. Untuk Telok Abang menggunakan telur ayam yang direndam dengan pewarna kue merah. Sedangkan pembuatan Telok Pindang cukup mudah, yaitu dengan merebus telur ayam dengan air yang sudah tercampur asam. Sedangkan untuk Telok Ukan prosesnya sedikit rumit. Bahan dasarnya telur ayam, telur bebek, santan, dan kayu gabus.

“Sebelum direbus, cangkang atas telur dilubangi, lalu dimasukkan air santan. Setelah itu ditutup pakai gabus hingga rapat, lalu dikocok hingga tercampur. Barulah dikukus sampai masak,” jelas Yani.

Makanan khas Palembang ini memang dibuat hanya ketika tengah merayakan peringatan HUT Kemerdekaan RI dan permintaan telur khas Palembang itu cukup tinggi di pasaran. “Setahun sekali saja jualan seperti ini, biasanya jualan manisan saja. Ini sebagai bentuk kami warga Indonesia menyambut dan merayakan kemerdekaan Indonesia,” pungkas Yani.

(bimbim)