sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » Otomotif » Perbedaan Sales Promotion Girls (SPG) Otomotif Dengan Female Presenter (FP)

Perbedaan Sales Promotion Girls (SPG) Otomotif Dengan Female Presenter (FP)



Jakarta – Tak dipungkiri kehadiran Sales Promotion Girls (SPG) dalam acara otomotif dapat menambah daya pikat sebuah produk. Namun bukan rahasia lagi jika SPG kerap dipandang miring, terlebih dengan pakaian super seksinya.

Perbedaan Sales Promotion Girls (SPG) Otomotif Dengan Female Presenter (FP)

Namun hadirnya gadis-gadis cantik dalam pameran otomotif tak semuanya berstatus sebagai SPG. Contohnya gadis cantik berdarah Manado yang satu ini. Ya, Savira memang ogah jika ia disebut sebagai SPG.

Savira pun mencoba menjelaskan perbedaan dirinya dengan SPG. Savira menyebut profesi yang ditekuninya sejak 2012 ini dengan sebutan Female Presenter (FP). Namun ia tak memungkiri juga pernah menjadi SPG.

Ya, sebelum jadi FP, wanita berambut cokelat ini menjadi SPG. Dan menurut Savira, FP itu kastanya lebih tinggi dari SPG atau usher. Pasalnya, untuk jadi FP selain harus good looking, komunikatif juga harus benar-benar mengetahui produk.

“Kalau orang promosi menyebutnya FP itu sudah paling eksis, jadi saya juga tidak terlalu dituntut untuk jualan beda sama SPG,” kata wanita yang masih melanjutkan pendidikan S2 ini kepada wartawan.

Kalau bicara soal beragam merek yang, menurutnya semua merek otomotif sama saja sih mau motor atau pun mobil. “Intinya kalau brand otomotif itu kastanya lebih tinggi, karena lebih premium dibanding produk lainnya, serta bayaran yang jauh lebih besar,” katanya.

Meski mengaku berbeda dengan SPG namun gadis yang memiliki tatto di tangan ini tak memungkiri tetap menjadi target pria-pria nakal dalam sebuah pameran. Namun Savira tetap mencoba tak meladeni dan tetap mengumbar senyum karena ia menyadari membawa nama sebuah brand.
(Muslich Basyirun – sisidunia.com)