Home » News » Yayasan Lembaga Hukum Indonesia (YLBHI) Nilai Eksekusi Terpidana Mati Jilid 3 Penuh Kejanggalan

Yayasan Lembaga Hukum Indonesia (YLBHI) Nilai Eksekusi Terpidana Mati Jilid 3 Penuh Kejanggalan



Jakarta – Menurut Direktur Yayasan Lembaga Hukum Indonesia (YLBHI) Julius Ibrani, proses eksekusi mati kepada 14 terpidana tersebut sarat akan kejanggalan dalam pelaksanaannya. Kejanggalan itu, tutur Julius terkonfirmasai dengan adanya penundaan eksekusi 10 terpidana mati lain.

Yayasan Lembaga Hukum Indonesia (YLBHI) Nilai Eksekusi Terpidana Mati Jilid 3 Penuh Kejanggalan

“Kami mengecam eksekusi mati ini karena banyak kejanggalan dalam pelaksanaannya. Jaksa Agung telah melakukan kesalahan fatal dengan menjalankan instruksi eksekusi mati ilegal pada empat terpidana Jumat kemarin,” ujar Julius dalam konferensi pers di kantor YLBHI, Jakarya, Minggu (31/7/2016).

Kejanggalan pelaksanaan eksekusi, menurut Julius, terlihat dengan ketidaksesuaian proses eksekusi dengan prosedur dan hukum yang ada. Salah satunya, jaksa eksekutor melalui perintah Jaksa Agung tetap melakukan eksekusi mati terhadap empat narapidana mati walaupun keempatnya masih dalam tahap mengajukan permohonan grasi.

Eksekusi mati tetap dilakukan Jumat dini hari pada Freddy Budiman (37 tahun), Michael Titus (34), Humprey Ejike (40), dan Cajetan Uchena Onyeworo Seck Osmane (34), walaupun keempatnya belum mendapatkan jawaban atas permohonan grasi mereka dari Presiden.

“Terpidana mati baru bisa dieksekusi setelah memegang surat Keputusan Presiden atas penolakan grasi mereka. Tapi nyatanya belum kan. Ini perbuatan melanggar hukum yang seharusnya tidak dilakukan pemerintah,” kata Peneliti Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) Erasmus Napitulu.
(Muslich Basyirun – sisidunia.com)