Home » News » Inilah Surat Terbuka Mantan Dirjen KAI Untuk Menteri Jonan

Inilah Surat Terbuka Mantan Dirjen KAI Untuk Menteri Jonan



Jakarta – Beberapa waktu yang lalu terjadi sebuah kemacetan yang mengakibatkan salah seorang pemudik meninggal dunia. Terkait dengan hal tersebut Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menyatakan bahwa tidak percaya adanya kematian yang ditimbulkan akibat kemacetan.

Inilah Surat Terbuka Mantan Dirjen KAI Untuk Menteri Jonan

“Saya baru kali ini dengar kemacetan menyebabkan kematian. Heran juga saya. Kalau kecelakaan menimbulkan kematian, iya. Tapi kalau macet sampai menimbulkan orang meninggal saya kira tidak ada. Mungkin meninggalnya akibat hal lain, bisa saja sudah sakit kurang sehat dan sebagainya,” kata Menteri Jonan di Jakarta, Rabu (6/7/2016).

Mendengar komentar Jonan, Mantan Dirjen Kereta Api (KA) Departemen Perhubungan, Ir Tunjung mengirimkan surat terbukanya untuk Pak Menteri. Dalam surat tersebut, Ir Tunjung tampan mengkritisi secara pedas sikap dan pernyataan Menteri Jonan itu.

Berikut adalah surat terbukanya secara lengkap :

Bapak Menteri yang terhormat….
Mungkin yang terbayang dalam pikiran bapak, Tuhan tidak akan mencabut nyawa seseorang saat macet, mungkin dalam pemikiran bapak ada kontrak antara Tuhan, Malaikat maut agar tidak mencabut nyawa orang ketika mudik dan macet.

Bapak Menteri yang terhormat..
Mari kita bicara fakta….
Salah satu pemudik itu adalah om saya, pemudik dari Bekasi hendak mudik ke Boyolali, lewat Brebes, terjebak di Brebes Exit. Beliau berangkat hari Senin Malam, terlunta lunta selama 4 Hari di Jalan, Kekurangan Oksigen, Stroke, Pecah pembuluh, dan tragis, meninggal di pelukan istrinya dalam mobil travel yang sesak.

Bapak Menteri yang terhormat..
Butuh Waktu 4 Jam untuk menemukan kantor polisi terdeket dan butuh 3 jam untuk menemukan RS terdekat untuk mengevakuasi jenazah paman saya, karena Macet.

Bapak Menteri yang terhormat..
Butuh waktu satu setengah hari untuk membawa Jenazah kembali ke kampung halaman Sukabumi, dengan kondisi yang menyedihkan…dan biaya yang tidak sedikit.

Bapak menteri yang terhormat..
Kalau saya jadi anda, saya akan malu, minimal kalau tidak mundur, saya tidak akan berbicara menyakitkan,

Bapak menteri yang terhormat, Kami tidak butuh simpati anda, cukuplah anda diam dan berpikir apa benar yg sudah anda ucapkan. anda tak percaya!! ini nyata ada di Indonesia.!!
(Muslich Basyirun – sisidunia.com)