Home » News » Apa Hukuman Kebiri Kimiawi Bersifat Permanen?

Apa Hukuman Kebiri Kimiawi Bersifat Permanen?



Jakarta – Presiden Joko Widodo pada Rabu (25/5/2016) kemarin telah menandatangani Perppu tentang perlindungan anak yang dalam salah satu ayatnya mencantumkan hukuman tambahan bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak dengan hukuman kebiri secara kimiawi.

Apa Hukuman Kebiri Kimiawi Bersifat Permanen?

Munculnya pemberlakuan hukuman kebiri ini tentu saja disambut positif oleh masyarakat setelah maraknya tindak kejahatan seksual terhadap anak yang terjadi belakangan ini. Namun kemudian timbul pertanyaan, apakah hukuman kebiri kimiawi yang diberlakukan mulai kemarin itu bersifat permanen efeknya terhadap pelaku?

Ketua Bagian Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar, Bali, Profesor Wimpie Pangkahila mengatakan, pada saat ini yang masih bisa dilakukan dokter dalam teknik kebiri adalah dengan cara kebiri kimiawi.

Sementara itu, kebiri fisik dengan cara membuang testis yang merupakan lokasi produksi testosteron sudah tidak lagi dilakukan dalam dunia kedokteran, kecuali ada indikasi medis.

“Itu (kebiri fisik) sudah ditolak habis-habisan. Dokter enggak akan mungkin mau melakukan itu, memotong testis orang yang bukan karena penyakit,” kata Wimpie.

Kebiri kimiawi dilakukan dengan cara memasukkan obat antiandrogen melalui suntikan untuk menekan produksi testoteron, dan harus dilakukan berulangkali untuk mendapatkan hasil yang sempurna.

“Tergantung reaksi setiap individu, tetapi tidak mungkin hanya sekali (suntik hormon antiandrogen),” kata Wimpie, Kamis (22/10/2015).
Jika penyuntikan dihentikan, tidak menutup kemungkinan pelaku akan kembali mendapatkan fungsi seksualnya lagi. Ada kemungkinan lain, pelaku meminta bantuan dokter lain untuk mengembalikan fungsi organ seksualnya dengan disuntik hormon laki-laki.

“Kalau tidak disertai, misalnya hukuman seumur hidup, dia (pelaku kekerasan seksual) kan bisa bergentayangan. Dia bisa pergi ke dokter lain minta dikembalikan seperti semula, diberikan hormon semula yang bukan antiandrogen,” kata Wimpie.
(Samsul Arifin)