sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » Gaya Hidup » 5 Trik Kelola Keuangan Di Masa Pernikahan Muda

5 Trik Kelola Keuangan Di Masa Pernikahan Muda



Jakarta – Bicara tentang pernikahan pasti terdapat cerita bahagia pada awal-awalnya, namun seiring berjalannya waktu pasangan muda pasti akan sedikit kaku dalam pengelolaan keuangan mereka.

5 Trik Kelola Keuangan Di Masa Pernikahan Muda

Terutama pada tahun awal pernikahan, pastinya tidak mudah untuk mengelola keuangan. Sebab, perlu menyatukan dua kepentingan sekaligus kebutuhan. Apalagi, pasangan muda ini punya sederet cicilan yang mesti dibayar.

Tahun-tahun pertama menikah adalah tahun perjuangan. Pasangan ini harus menyesuaikan diri karena hidup bersama. Berjuang untuk menerima kekurangan masing-masing, berjuang untuk meredam ego, dan berjuang untuk mapan.

Jika awalanya, melakukan semua perincian secara pribadi, dengan pernikahan ini maka sekarang ada orang yang harus dibagi. Dalam hal keuangan, tentu saja di sini kita berbicara penghasilan.

Apalagi jika harus menyisihkan uang demi membayar beberapa cicilan. Mulai dari cicilan kendaraan bermotor, cicilan kredit pemilikan rumah (KPR), tabungan pendidikan anak, dana darurat, dan lain-lain. Ini jelas beda saat masih lajang.

Untuk itu, ini tips atur uang belanja ketika cicilan merajalela. Berikut tips yang akan diberikan sisi dunia:

1.Belanja bersama
Namanya juga pasangan muda, pasti lagi mesra-mesranya. Belanja bulanan di akhir pekan bisa jadi momen kencan. Kenapa harus belanja bulanan bersama? Supaya bisa memutuskan apakah barang di keranjang layak dibeli atau bisa menunda.

Misalnya, istri sudah mengambil botol kecap ukuran besar, tapi suami jarang makan pakai kecap. Istri bisa menggantinya dengan ukuran kecil yang harganya lebih murah.

2.Terbuka soal konsumsi
Ada tipe suami yang langsung memberikan seluruh gajinya untuk dikelola istri, ada juga yang memberikan uang bulanan untuk istri dan menyimpan sebagian untuk dirinya sendiri.

Apapun pilihannya, tetap terbuka soal konsumsi. Misalnya, suami ingin mencicil motor, suami harus komunikasikan hal ini karena artinya akan ada pengeluaran lain untuk membayar cicilan.

3.Buat perencanaan anggaran bulanan
Rumuskan anggaran bersama pasangan. Misalnya, gaji suami Rp 6 juta, istri Rp 4 juta, sehingga jika digabungkan jadi Rp 10 juta. Kemudian, bagi dalam beberapa pos seperti yang akan diuraikan di poin-poin selanjutnya.

4.Batasi konsumsi bulanan
Pengeluaran bulanan termasuk belanja bulanan seperti deterjen, sabun, listrik, air, dan bahan makanan. Masak sendiri memang melelahkan, apalagi jika pasangan suami istri bekerja.

Tapi dengan masak sendiri, bisa berhemat banyak. Kalau benar-benar tidak sempat, beli lauk tapi tetap masak sendiri.

5.Batasi cicilan
Bank menilai rasio kemampuan kredit seseorang sejumlah 30 persen dari total penghasilan suami dan istri. Jika total penghasilan bersama istri adalah Rp 10 juta, maka batas cicilan per bulan yang dapat diberikan oleh bank adalah Rp 3 juta.

Tujuannya agar sisa dari penghasilan dapat digunakan untuk memenuhi keperluan hidup lainnya. Pada KPR, besar cicilan yang dilakukan juga tergantung dari besar uang yang disetorkan sebagai uang muka.

Jadi, bila ingin mendapatkan kredit dengan plafon tinggi dan cicilan rendah, maka uang muka yang disetorkan pun harus besar. Karena hal ini akan mempengaruhi jumlah sisa cicilan yang dilakukan.
(Freddy Julio – sisidunia.com)