sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Seorang Khotib Hampir Diusir Karena Dianggap Provokatif

Seorang Khotib Hampir Diusir Karena Dianggap Provokatif



Jakarta – Hampir membuat geram warga Arenjaya RW 04 Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat dengan tingkah salah satu warganya yang bernama Warpai, karena sikap provokatifnya terhadap warga tentang menyudutkan pemerintah.

Seorang Khotib Hampir Diusir Karena Dianggap Provokatif

Dari informasi yang didapat sisi dunia, awal mula kejadin tersebut ketika Warpai menjadi khatib salat jumat di Masjid Al Ikhlas Kelurahan Arenjaya dengan memberikan materi yang berisikan pemerintah dan Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri terkait pemberantasan pengikut ISIS, serta kelompok radikal lainnya.

“Saudara Warpai dinilai warga bernada menghasut,” kata Kasat Intel Polresta Bekasi Kota, Kompol Saimin, Senin (9/5/2016).

Bahkan, Warpai juga menempelkan pamflet berisi kalimat “Bubarkan Densus 88, Karena Pembunuh Umat Muslim” di majalah dinding masjid tersebut.

Berdasarkan temuan tersebut, seluruh warga RT01 hingga RT 018, yang diwakili Ketua RW 04 Arenjaya, Mardi Soemarmo telah mengirimkan surat somasi kepada Warpai pada 5 Mei 2016 karena dianggap memprovokasi dan menghasut.

Dalam surat tersebut, warga meminta Warpai untuk segera pergi dari lingkungan RW 04 dengan tenggang waktu sepekan setelah menerima surat somasi tersebut. Selanjutnya, pengurus RW juga mengundang Warpai untuk mengklarifikasi soal materi khotbah dan pamflet bernada provokasi tersebut.

Saimin menyebutkan, hasil dari pertemuan warga dengan Warpai adalah memberikan kesempatan kepada Warpai untuk menetap di lingkungan tersebut dengan syarat tidak menyampaikan informasi yang bersifat provokatif lagi.

Warpai juga diminta beradaptasi dengan lingkungan seperti turut bekerja bakti, menengok warga yang sakit karena selama ini tidak aktif kegiatan sosial di wilayah tersebut.

“Yang bersangkutan sanggup tidak mengulangi perbuatannya dan akan segera menyesuaikan dengan lingkungan setempat,” tutur Saimin.
(freddy yulianto-sisidunia.com)