sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Setelah PHK Karyawan, PT Indonesia Tobacco Penjarakan 2 Pengurus

Setelah PHK Karyawan, PT Indonesia Tobacco Penjarakan 2 Pengurus



Jakarta – Dalam sidang terbuka terkait dengan pembacaan vonis terhadap dua aktivis buruh di Pengadilan Negeri (PN) Kota Malang, dipenuhi dengan isak tangis dalam persidangan terdakwa Saiful dan Liayati.

Setelah PHK Karyawan, PT Indonesia Tobacco Penjarakan 2 Pengurus

Jelang vonis dibacakan, kedua terdakwa diminta berdiri dari tempat duduknya oleh Ketua Majelis Hakim, Eko Wiyono. Wajah tegang terlihat dari raut muka keduanya.

Air mata tidak tertahankan saat keduanya dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 3 bulan penjara. Sambil membasuh air mata, mereka saling bersalaman. Sementara air mata para buruh lain yang menyaksikan persidangan tidak terbendung.

Atas semangat solidaritas, 77 buruh selalu mengawal persidangan dengan aksi orasi dan membaca surat Yasin.

Setelah PHK Karyawan, PT Indonesia Tobacco Penjarakan 2 Pengurus

Tampak pada hari ini, para buruh melakukan long march dari Kantor Kejaksaan menuju kantor Pengadilan Negeri Kota Malang yang berjarak sekitar 1 Km. Jelang sidang dimulai dilakukan orasi, begitupun usai putusan sidang.

“Ini tidak akan menyurutkan niat kami untuk berjuang. Bahwa kami telah dizalimi, uang pesangon kami tidak dibayar,” teriak mereka di depan PN Kota Malang, Rabu (4/5).

Saiful dan Liayati merupakan pengurus serikat pekerja di PT Indonesia Tobacco, tempat keduanya pernah bekerja. Keduanya didakwa melakukan penggelapan dana sosial dari perusahaan melalui Pengurus Unit Kerja (PUK) tahun 2011-2014.

Kuat dugaan gugatan terhadap dua pengurus tersebut dilatarbelakangi suatu hal di luar hukum, karena pihak perusahaan terlibat konflik berkepanjangan dengan 77 buruh yang di-PHK secara sepihak, termasuk keduanya.

“Seharusnya divonis bebas. Kalau begini, seolah kami bersalah, padahal itu dana kegiatan sosial yang disumbangkan ke serikat pekerja,” kata Khotimah, salah satu peserta demo.

Khotimah yang juga istri Saiful menyimpan kekhawatiran, kalau pengurus serikat pekerja yang lain kembali dikriminalkan. Karena selain Saiful dan Liayati masih ada 10 pengurus lainnya.

“Khawatir, bisa saja 10 pengurus yang lain akan bernasib sama. Jumlah pengurus semuanya 12 orang, mereka bisa kembali dilaporkan,” katanya.

Khotimah sendiri selama suaminya ditahan mengaku harus berjuang menghidupi kedua anaknya yang masih berusia 4,5 tahun dan 12 tahun.

Selain itu juga tetap bersemangat harus mengawal kasus suaminya, dan kasus PHK sepihak yang hingga kini pesangonnya belum dibayarkan.

“Awalnya mencairkan JHT (Jamsostek), kemudian cari pinjaman. Nanti kalau pesangonnya sudah cair saya akan lunasi,” imbuh Khotimah.
(Freddy Julio – sisidunia.com)