Home » News » Kepala Sekolah Ditekan Oleh Polisi Tanda Tangan BAP

Kepala Sekolah Ditekan Oleh Polisi Tanda Tangan BAP



Jakarta – Terintimidasi, begitu ungkapan kata yang diucapkan oleh Kepala Sekolah Dasar No. 125/X Sungai Cemara Kecamatan Sadu, Tanjung Timur, Najmi. mengaku diintimidasi polisi yang mengaku dari Polda Metro Jaya.

Kepala Sekolah Ditekan Oleh Polisi Tanda Tangan BAP

Akunya, Najmi mendapat ancaman dari seorang polisi yang mengaku anggota Polda Metro Jaya, setelah dirinya selesai memperbaiki kesalahan ijazah MS (16), terdakwa yang diputus bebas Hakim PN Jaksel dalam kasus penganiayaan di Jakarta.

Pada Kamis (28/4), Najmi mengaku telah dihubungi Kapolsek Sadu dan diminta untuk datang ke Polres Tanjung Jabung Timur untuk dimintai keterangan terkait kasus yang menimpa MS. Meskipun awalnya Najmi sempat menolak dikarenakan lokasi rumahnya sangat jauh dengan lokasi yang dituju, akhirnya dia datang juga.

“Ya betul. Jumat pagi pergi sampai sana 11 disuruh tunggu sampai jam 3,” kata Najmi saat dihubungi via telepon oleh kuasa hukum MS, Bunga Siagian di kantor LBH Jakarta, Sabtu (30/4).

Selama menunggu di Polres, Najmi mengaku setiap gerak-geriknya selalu diperhatikan. Mulai dari usai salat hingga saat menaruh barang di jok motornya. Hingga pukul 14.00 WIB, akhirnya dia memutuskan pulang ke rumahnya. Namun saat dalam perjalanan pulang teleponnya berdering.

“Di tengah jalan saya di telpon, dia bilang, Saya intel, Bapak dimana? Saya bilang, saya di warung deket Bank BRI, saya mau pulang. Terus dia bilang, bapak jangan kemana-mana yah tunggu di situ,” kata Najmi menirukan percakapnnya kala itu.

Tak lama, seorang polisi dan rekannya yang tanpa seragam datang menghampiri dan mengajak dirinya untuk berbincang di kantor polisi. Saat itu dia ditanya soal pemberian surat keterangan salah penulisan tahun kelahiran MS. Dalam ijazah tersebut tertulis MS lahir pada tahun 1995, sedangkang MS lahir pada tahun 2000.

“Saya ditanya-tanya, saya dikelilingi 5-6 aparat. Saya ditanya tentang surat keterangan yang meralat MS lahir tahun 2000 bukan 1995 dengan sesuai fakta dilapangan berupa surat keyerangan dari bidan dan puskesmas,” cerita Najmi.

Polisi yang mengaku datang dari Jakarta itu mengatakan, tindakan yang dilakukan Najmi salah dan melanggar hukum. Sebab tidak sesuai dengan SOP. Polisi itu mengatakan yang dilakukannya menyalahi aturan yang berlaku.

“Dia tanya menekan dan menyudutkan saya. Ada salah satu bilang, bapak dapat berapa dari sana? Saya bilang tidak ada yang seperti itu. Tidak ada kongkalikong. Enggak ada. Saya berbuat jujur demi Allah saya tidak gitu,” cerita Najmi.

Kemudian pemeriksaan dipindah ke ruangan Kasat Reskrim. Disana, dia juga memberikan keterangan yang sama soal kesalahan penulisan tahun MS. Di situ Najmi melihat polisi membuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang menyatakan adanya tindak penipuan.

“Tapi saya enggak mau tanda tangan karena saya merasa tidak dibohongi,” lanjut Najmi.

Hingga malam Najmi terus diminta menandatangani BAP itu. Namun dengan tegas dia menolak. Akhirnya dia disuruh pulang karena tidak juga mau menandatangani BAP tersebut. Namun dia memilih untuk menginap di penginapan terdekat, lantaran perasaan takut.

“Karena saya takut, jadi saya menginap dulu. Subuh tadi saya baru lulang dan Alhamdulillah enggak ada apa-apa,” tutup Najmi.

Untuk diketahui, hakim Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Pudji Tri Rahadian memutuskan terdakwa MS (16) dibebaskan dari dakwaan melakukan penganiayaan terhadap Hasan Basri (38). MS (16) dinyatakan bebas dari dakwaan setelah hakim memutus menolak semua dakwaan Jaksa Penuntut Hukum.

MS merupakan siswa kelas 3 SMP PKBM Negeri 21. MS diadili akibat dituduh melakukan penganiayaan terhadap seorang pria bernama Hasan Basri (38) saat malam pergantian tahun 2016 lalu. MS dilaporkan istri Hasan, Zubaidah dengan tuduhan menyiram air keras saat terjadi tawuran di sebuah gubuk di Kampung Flamboyan, Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan.
(Freddy Julio – sisidunia.com)