sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » ISIS Kritis Dana Akibat Serangan Amerika Serikat Terhadap Bank Milik ISIS

ISIS Kritis Dana Akibat Serangan Amerika Serikat Terhadap Bank Milik ISIS



Jakarta – Melalui keterangan yang disampaikan oleh ISIS kepada Deputi Komando Perlawanan Koalisi ISIS Mayor Jenderal Peter E. Gersten, menyatakan bahwa dana yang dimiliki kelompok tersebut mulai menipis dan juga enggannya para pejuangnya untuk berperang di garis depan medan laga.

ISIS Kritis Dana Akibat Serangan Amerika Serikat Terhadap Bank Milik ISIS

Pernyataan itu diperkuat dokumen internal ISIS yang meminta para pejuangnya hemat listrik dan tidak menggunakan mobil organisasi demi kepentingan pribadi.

“Moral para pejuang ISIS mulai menurun. Bahkan, dalam beberapa kasus, para dokter menolak bertugas di garis depan,” bunyi dokumen tersebut.

Gersten mengatakan kepada wartawan, serangan terhadap keuangan ISIS dan personelnya telah mengurangi semangat pejuang asing bergabung dengan ISIS, dari 1.500-2.000 per bulan menurun menjadi 200 per bulan.

“Kami saat ini menyaksikan kian meningkatnya jumlah pejuang yang desersi, termasuk penurunan moral. Kami melihat ketidakmampuan mereka membayar gaji. Para pejuang mulai meninggalkan ISIS,” ucap Gersten.

Sejak Oktober 2015, selaku pemimpin pasukan koalisi perang melawan ISIS, Amerika Serikat luncurkan serangan dengan sasaran pada infrastruktur industri minyak dan fasilitas penyimpanan dana tunai milik ISIS sebagai upaya melibas sumber keuangan kelompok tersebut.

Gersten menuturkan serangan pasukan koalisi telah berhasil menghancurkan US$ 300-800 juta atau sekitar Rp 3,95-10,5 triliun. Dia berjanji serangan akan berlanjut untuk menghancurkan keuangan ISIS.

“Jika mereka memperoleh tagihan satu dolar di jalan untuk membangun senjata, saya akan ke sana untuk mendapatkan satu dolar itu,” ujar Gersten.
(freddy yulianto-sisidunia.com)